Politik

Wawali Kota Probolinggo: Revolusi Industri 4.0 Jauh Panggang dari Api

googleberita

Probolinggo (beritajatim.com) – Wakil Walikota Probolinggo, HM Saufis Subri, menilai esensi dari revolusi industri 4.0, berbanding terbalik dengan harapan masyarakat Indonesia. Menurutnya, indistri 4.0 lebih menguntungkan para pelaku bisnis, khususnya dari sisi efisiensi biaya operasional. Padahal faktanya, kebutuhan lapangan kerja untuk masyarakat Indonesia, masih terbilang tinggi.

“Revolusi Industri 4.0 ini yang lagi tren dan banyak digaungkan media dan dunia barat. Padahal esensi dari 4.0 sangat berbanding terbalik dengan harapan kita menyerap banyak tenaga kerja,” katanya.

Dia mencontohkan pelaksanaan industri 4.0 pada gardu tol. Dulu, setiap gardu tol satu penjaga. Jika sepuluh gardu maka terdapat sepuluh penjaga. Saat ini, sepuluh gardu hanya butuh satu orang. Artinya, sembilan orang sudah harus tereliminasi. “Dikali sekian ribu gardu tol seluruh Indonesia. Berapa orang sudah yang berhenti menjaga gardu tol gara-gara tekhnologi di era 4.0 ini,” papar insinyur sipil itu, Selasa (10/09/2019).

Subri, panggilan akrab dia, meminta jajaran eksekutif tidak hanya fokus membicarakan bonus demografi (besarnya penduduk usia produktif antara 15 tahun hingga 64 tahun dalam suatu negara red.), sementara revolusi industri 4.0 sudah menjadi kesepakan tak tertulis dunia industri.

“Tahun 2020 sampai tahun 2030, Indonesia, akan dihadiahi bonus demografi. Sebetulnya kita harus melakukan semacam kajian step by step, untuk lebih mengamati kondisi saat ini,” katanya.

Terutama, lanjut dia, bagaimana mencari solusi terkait kebutuhan lepangan kerja bagi penduduk Kota Probolinggo. “Dari segi pengangguran juga cukup tinggi. Saat ini jumlah penduduk sekitar 238 ribu, nantinya akan meningkat dengan adanya bonus demografi, terutama penduduk dengan usia produktif,” kata Subri, saat membuka seminar bonus demografi, peluang dan tantangan bagi Kota Probolinggo. di Puri Manggala Bhakti.

Secara riil, Subri, berharap ada arah yang jelas menjawab Bonus demografi saat revolusi industri 4.0 sudah menggeliding. “Ini akan kita arahkan ke mana, sektor formal atau informal? Ini yang penting. Karena pada kenyataannya, sesungguhnya yang bisa mengatasi permasalahan pengangguran ini sektor informal. Untuk itu kita harus lebih banyak membahas apa yang menjadi tantangan dari bonus demografi ini. Jangan kita larut pada euphoria bonus demografi saja,” harap dia.

“Saya minta Bappeda harus mampu menyedian data terkait ini. Buat kajian bonus demografi di Kota Probolinggo. Bagaimana dampaknya, terutama dengan kehadiran jalan tol, kesiapan SDM kita, bagaimana nasib UMKM kita, serta penerapan tekhlogi di era 4.0 ini,” pungkasnya.

Baca Juga:

  • Pemkot Probolinggo Percepat Penataan Ulang OPD
  • Pemkot Siap Mendapat Mitra Kerja Kritis
  • Ini Cara Pemkot Probolinggo Keluar Dari Sengkarut Pelayanan Kesehatan
  • Pemerintahan Hadi Zainal Abidin Nyaris Tanpa Oposisi

Untuk diketahui, dalam seminar bonus demografi, peluang dan tantangan bagi Kota Probolinggo, Pemkot Probolinggo menyajikan materi tentang perkembangan Kependudukan di Kota Probolinggo. Materi ini disampaikan Tartib Gunawan, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil kota setempat. Sementara materi tentang Strategi dan Kebijakan Menghadapi Bonus Demografi, serta Strategi dan Kebijakan Menghadapi Bonus Demografi Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Jawa Timur, disampaikan Adi Basuki Putranto dan Yusuf Ardyansana dari Bappeda Provinsi Jawa Timur. [eko/but]