Politik

SETARA: Selama 2020 Terjadi 180 Peristiwa Pelanggaran KKB








Jakarta (beritajatim.com) – Laporan riset ke-14 SETARA Institute mengenai Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) di Indonesia tahun 2020 ini mengusung judul Intoleransi Semasa Pandemi. Sebab, sebagaimana negara lainnya, Indonesia dilanda pandemi Covid-19.

“Dampak pandemi dirasakan di dan mempengaruhi seluruh sektor kehidupan, termasuk dalam KBB,” ujar Peneliti KBB SETARA Institute Kidung Asmara Sigit, Selasa (6/4/2021).

Menurutnya, sepanjang tahun 2020, terjadi 180 peristiwa pelanggaran KBB, dengan 422 tindakan. Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah peristiwa menurun tipis, yang mana pada 2019 terjadi 200 peristiwa pelanggaran KBB, namun dari sisi tindakan melonjak tajam dibandingkan sebelumnya
yang ‘hanya’ 327 pelanggaran.

Baca Juga:

  • Polres Pamekasan Gelar FGD Kerukunan dan Toleransi
  • Bupati Pamekasan Ajak Masyarakat Jaga Kerukunan
  • Murid Muslim Berwudlu, Murid Kristen Bantu Pegang Slang Air
  • Tokoh Lintas Agama Gelar Deklarasi Damai
  • Ketua FKUB Malang: People Power Bertentangan dengan Agama dan Budaya

Kidung memaparkan, peristiwa pelanggaran KBB di tahun 2020 tersebar di 29 provinsi di Indonesia dengan konsentrasi pada 10 provinsi utama yaitu Jawa Barat (39), Jawa Timur (23), Aceh (18), DKI Jakarta (13), Jawa Tengah (12), Sumatera Utara (9), Sulawesi Selatan (8), Daerah Istimewa Yogyakarta (7), Banten (6), dan Sumatera Barat (5).

“Tingginya jumlah kasus di Jawa Barat hampir setara dengan jumlah kumulatif kasus di 19 provinsi lainnya,” ujar Kidung.

Dia menambahkan, peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan mengalami fluktuasi di setiap bulannya sepanjang tahun 2020, seperti pada bulan Januari (21), Februari (32), Maret (9), April
(12), Mei (22), Juni (10), Juli (12), Agustus (13), September (16), Oktober (15), November (10), dan
Desember (8). Angka peristiwa yang tertinggi dan drastis terjadi pada bulan Februari 2020.

“Mengacu pada detail peristiwa yang dicatat, tren pelarangan perayaan Hari Kasih Sayang atau Valentine’s Day di sejumlah daerah menjadi pemicu meningkatnya intoleransi,” katanya.

Direktur Riset SETARA Institute Halili Hasan menambahkan, dari 422 tindakan yang terjadi, 238 di antaranya dilakukan oleh aktor negara. Sebanyak 184 di antaranya dilakukan oleh aktor non-negara. Hal itu menunjukkan bahwa kecenderungan peningkatan tindakan pelanggaran oleh aktor negara tahun lalu berlanjut.

Baca Juga:

  • Polres Pamekasan Gelar FGD Kerukunan dan Toleransi
  • Begini Cara Banyuwangi Jaga Kerukunan Umat Beragama
  • Bupati Kediri Ajak Perkuat Kerukunan Antar Umat Beragama
  • Wujud Toleransi 3 Pilar Bantu Bersihkan Pura Jelang Hari Raya Nyepi

Tindakan tertinggi yang dilakukan oleh aktor negara adalah diskriminasi (71 tindakan), sedangkan tindakan tertinggi oleh aktor non negara adalah intoleransi (42 tindakan). Melihat potret tindakan aktor negara dan non negara, tampak bahwa pandemi menjadi lahan subur bagi terjadinya diskriminasi dan intoleransi.

Sementara, lanjut Halili, dari total 180 peristiwa pelanggaran KBB yang terjadi di tahun 2020, setidaknya 12 di antaranya menimpa perempuan sebagai korban. Peristiwa ini meliputi pelaporan penodaan agama, pelarangan atribut keagamaan, penolakan rumah dan kegiatan ibadah, diskriminasi berbasis daring, dan penolakan jenazah. KBB sebagai bagian dari HAM dapat dimaknai sebagai upaya untuk melindungi warga negara dari konservatisme dan patriarki.

“Dalam konteks ini, kegagalan negara dalam mengidentifikasi kekhususan situasi, kerentanan, dan dampak spesifik yang dialami oleh perempuan pada peristiwa pelanggaran KBB memicu perlakuan diskriminatif terhadap perempuan,” kata Halili. [hen/suf]







The post SETARA: Selama 2020 Terjadi 180 Peristiwa Pelanggaran KKB first appeared on beritajatim.com.