Peristiwa

Selain Lion Air, 4 Pesawat Nahas Maskapai Dunia Ini Jatuh di Perairan

Googleberita.com, Jakarta – Lion Air JT 610 dilaporkan hilang kontak setelah lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta sekitar pukul 06.00 WIB, Senin 29 Oktober 2018.

Badan pesawat dilaporkan menghantam permukaan perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, kapal yang membawa 189 penumpang dengan rute Jakarta-Pangkalpinang tersebut meledak. Bongkahan-bongkahan kecil pesawat pun berceceran di atas dan di dalam permukaan laut, termasuk kotak hitam Lion Air.

Insiden jatuhnya pesawat Lion Air di perairan Tanjung Karawang itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat korban serta masyarakat Indonesia.

Selain Lion Air, peristiwa jatuhnya pesawat di atas perairan juga pernah dialami sejumlah maskapai di dunia. Berikut beberapa kasus di antaranya, seperti dirangkum Googleberita.com dari beragam sumber, Minggu (4/11/2018):

 

Saksikan juga video berikut ini:

Yemenia Air IY626 Celaka di Samudera Hindia

Ilustrasi maskapai Yemenia Air (Wikipedia/Creative Commons)

Pada 30 Juni 2009, Yemenia Air IY626 celaka di Samudera Hindia, dekat Kepulauan Comoro. Nyaris seluruh penumpang dan awak pesawat tewas. Kecuali satu…

Entah bagaimana caranya, seorang gadis 14 tahun bisa selamat setelah terlempar ke lautan gelap dan ganas. Ia tetap bertahan meski jeritan para penumpang di sekitarnya kian samar lalu lenyap sama sekali.

Gadis cilik itu tak pandai berenang, tidak ada jaket penyelamat yang menempel di badannya. Ia hanya bergantung nyawa pada puing pesawat yang menjadi tumpuannya mengapung.

Bahia Bakari — nama korban — ditemukan dalam kondisi bernyawa setelah kecelakaan, di tengah lautan yang bergejolak, dikelilingi tumpahan minyak, puing-puing pesawat, barang-barang penumpang, dan jasad-jasad yang mengambang.

Ia menderita kelelahan ekstrem dan hipotermia. Wajah, lengan, dan kakinya juga penuh luka, tulang lehernya retak, namun kondisinya jauh dari bahaya.

Kala itu, remaja itu bepergian bersama ibunya dari Paris ke Moroni, Komoro — sebuah pulau di perairan Mozambik — untuk mengunjungi sanak keluarga. 

Keduanya berniat mengunjungi di Desa Nioumadzaha, kampung halaman mereka sebelum pindah ke Marseilles, Prancis.

“Aku ingat, pesawat saat itu mulai menurun. Awak kabin memerintahkan kami mengencangkan sabuk pengaman karena kapal terbang berpotensi mengalami tabrakan,” kata dia kepada CNN, seperti dikutip dari New York Daily News, Kamis 29 Juni 2017.

Airbus A310 itu berusaha mendarat di Kepulauan Komoro di tengah cuaca buruk. Dua kali pendaratan darurat dilakukan, namun, upaya itu gagal. Kapal terbang tersebut akhirnya menghujam lautan. 

Bahia mengaku merasakan sensasi seperti ‘tersengat listrik’ saat pesawat menabrak lautan. Setelah itu, ia mendengar suara-suara.

“Saya mendengar suara lain — para perempuan yang menangis, tapi saya tidak melihat mereka,” kata dia, seperti dikutip dari Telegraph.

“Lalu, saya melihat puing dan memutuskan untuk meraihnya dan bertahan di sana.”

Remaja pemberani itu mencengkeram puing selama lebih dari sembilan jam dalam kegelapan, meskipun ombak ganas terus berupaya meraihnya.

“Pada saat itu, saya berpikir tidak ada yang bisa menemukan saya,” kata Bahia.

Tiba-tiba, ia mendengar suara teriakan. “Kemarilah,” kata Bahia, menirukan apa yang didengarnya.

Ia pun mendongakkan kepalanya dan melihat keberadaan sebuah kapal. Masih mencengkeram puing-puing yang mengambang, ia mencoba untuk berenang ke arahnya. Namun, tubuhnya terlalu lemas.

Libouna Selemani Matrafi, seorang pelaut, adalah relawan yang kali pertama melihat keberadaan Bahia.

Bahia Bakari adalah satu dari 142 penumpang — termasuk tiga bayi — dan 11 awak di atas Airbus 310. Sebanyak 152 orang tewas dalam kecelakaan tersebut, termasuk sang ibu. 

Situs The Aviation Safety Network menyebut, apa yang menimpa Yemenia Air IY626 adalah kecelakaan pesawat mematikan kedua yang menyisakan hanya satu korban selamat.

AirAsia QZ8501 Jatuh di Perairan Selat Karimata

Pemindahan bangkai badan AirAsia QZ8501 dari kapal Crest Onyx di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (Googleberita.com/Faizal Fanani)

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis hasil investigasi kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501. Pesawat yang membawa 162 orang itu‎ mengalami celaka di perairan Selat Karimata pada Minggu, 28 Desember 2014 pagi.

Dari hasil investigasi diketahui bahwa faktor terbang yang sempat dipermasalahkan dan cuaca selama penerbangan dari Surabaya ke Singapura tidak terkait dengan kecelakaan ini.

“Hal-hal seperti perizinan rute penerbangan dianggap tidak terkait pada kecelakaan ini. KNKT juga tidak menemukan tanda-tanda atau pengaruh cuaca yang menyebabkan kecelakaan ini,” ucap investigator KNKT Nurcahyo Utomo dalam jumpa pers di kantor KNKT, Jakarta, Selasa 1 Desember 2015.

Pria yang akrab disapa Cahyo itu menjelaskan pesawat yang terbang dari Bandara Juanda, Jawa Timur, pukul 05.35 WIB itu sudah beberapa kali mengalami gangguan setelah terbang sekitar 30 menit.

Dia mengatakan sejak pukul 06.01 WIB, Flight Data Recorder (FDR) mencatat adanya aktivasi peringatan 4 kali. Hal itu disebabkan terjadinya gangguan pada sistem Rudder Travel Limiter (RTL). Gangguan itu juga mengaktifkan Electronic Centralized Aircraft Monitoring (ECAM) berupa pesan ‘Auto FLT RUD TRV LIM SYS’.

“Berdasarkan pesan ini, awak pesawat melaksanakan perintah sesuai langkah-langkah yang tertera pada ECAM,” ucap dia.

Malaysia Airlines MH370 Hilang Kontak di Samudera Hindia

Senin (24/3/2014) pukul 22.00 WIB Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengumumkan kabar Malaysia Airlines MH370 berakhir di Samudera Hindia

Malaysia Airlines hilang dalam penerbangannya dari Kuala Lumpur, Malaysia menuju Beijing, China. Boeing 777-200 itu dan 239 orang yang ada di dalamnya raib tanpa meninggalkan jejak.

Berdasarkan data satelit MH370 berakhir di sebelah selatan Samudera Hindia. Namun hingga kini, belum ada bukti yang ditemukan untuk mendukung kesimpulan tersebut.

Hilangnya MH370 menjadi salah satu misteri terbesar dalam sejarah penerbangan. Salah satu keanehan dalam kasus tersebut adalah, mengapa pilot — atau siapapun yang ada di dalam kabin — membelokkan pesawat keluar dari jalur yang semestinya. Kapal terbang itu menghilang dari radar tanpa sinyal bahaya, atau petunjuk adanya gangguan cuaca.

Otoritas Malaysia pada Senin, 30 Juli 2018, merilis laporan akhir mengenai penyelidikan terhadap pesawat Boeing 777 Malaysia Airlines yang hilang dalam perjalanan menuju Beijing dari Bandara Kuala Lumpur, Malaysia, pada 8 Maret 2014.

“Tim penyelidik tidak dapat menentukan penyebab sebenarnya dalam kasus hilangnya MH370,” kata Kok Soo Chon, kepala tim investigasi keselamatan MH370, kepada wartawan, seperti dikutip dari ABC Indonesia, Selasa 31 Juli 2018.

 

Pesawat Jatuh di Swan River, Perth

Kecelakaan pesawat di Perth yang menewaskan WNI, Putri Banten, Endah Ari Cakrawati. (Michael Legg)

Endah Ari Cakrawati, yang pernah dikenal sebagai model dan presenter di Indonesia, dilaporkan menjadi korban kecelakaan pesawat kecil di Swan River, Perth saat perayaan Australia Day, pada Kamis 26 Januari 2017.

Kepolisian Australia Barat sudah mengonfirmasi dua nama korban tewas, yakni Peter Lynch dan Endah Cakrawati.

“Peter Lynch berusia 52 tahun dan memiliki tiga orang anak, dan korban lainnya adalah Endah Cakrawati, usia 30 tahun asal Indonesia, yang sepengetahuan kami mereka adalah rekan dan sekaligus pasangan,” ujar Stephen Brown dari Kepolisian Australia saat menggelar jumpa pers.

Dari informasi yang Googleberita.com kutip Jumat 27 Januari 2017, Konsulat Jenderal RI di Perth telah memberitahu pihak keluarga Endah soal kecelakaan ini.

“KJRI sudah menghubungi dan berkomunikasi dengan keluarganya di Indonesia,” ujar Ade Padmo Sarwono, Konjen RI di Perth.

“Kita juga akan terus berkomunikasi dengan polisi untuk memperoleh akses ke kamar jenazah, yang rencananya dilakukan hari ini,” kata Ade saat dihubungi Erwin Renaldi dari ABC Australia Plus.

Ade menjelaskan, bantuan yang akan diberikan oleh KJRI saat ada warga Indonesia yang meninggal di Australia adalah mengupayakan agar keluarga korban bisa datang ke Australia dan menemui otoritas atau pihak kepolisian.

“Kita akan membantu proses pengajuan visa bagi keluarga untuk datang ke Perth atau memfasilitasi untuk bertemu otoritas. Untuk selanjutnya soal jenazah, itu tergantung pihak keluarga untuk dibawa ke Indonesia atau tidak,” tambahnya.

Endah diketahui bekerja dengan Peter sebagai manajer investor dan public relations di Cokal, perusahaan batu bara asal Australia yang beroperasi di Indonesia, Tanzania, dan Mozambik.

Sebelumnya, ia juga pernah menjadi model dan MC di Indonesia. Karirnya di dunia hiburan dimulai saat ia menyabet gelar runner-up I Putri Banten 2008.

Dari profil LinkedIn-nya disebutkan jika Endah adalah lulusan S-2 Magister Manajemen di Universitas Indonusa Esa Unggul.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of