Peristiwa

Saham Layanan Komunikasi Dorong Wall Street Menguat

Googleberita.com, New York Wall Street menguat pada penutupan perdagangan Kamis (Jumat pagi waktu Jakart) terdorong kenaikan saham Apple, Alphabet dan Facebook. Kepercayaan Federal Reserve AS terhadap kekuatan ekonomi AS setelah menaikkan suku untuk ketiga kalinya pada tahun ini ikut menjadi pendorong.

Melansir laman Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,21 persen menjadi 26.439,93 poin. Sementara indeks S&P 500 naik 0,28 persen menjadi 2.914. Dan Nasdaq Composite bertambah 0,65 persen menjadi 8.041,97.

Delapan dari 11 sektor saham tercatat naik, dengan sektor layanan komunikasi pada indeks S&P 500 melompat 0,80 persen. Tercatat saham Alphabet naik 1,20 persen dan Facebook naik 1,13 persen. keduanya yang mendorong naik indeks S&P 500.

Saham Amazon.com naik 1,93 persen setelah muncul komentar optimis dari broker Stifel tentang bisnis ritel, awan, dan periklanan perusahaan. 

Saham Apple naik 2,05 persen setelah JPMorgan menyebut saham perusahaan dengan peringkat “overweight”, mengutip langkah pembuat iPhone yang lebih cepat dari perkiraan pada bisnis layanan.

Kemudian adanya kenaikan suku bunga pada hari Rabu oleh The Fed. Bank Sentral meninggalkan pandangan kebijakan moneter untuk tahun-tahun mendatang sebagian besar tidak berubah.

Wall Sttreet sempat ditutup lebih rendah setelah kenaikan suku bunga, tetapi pada Kamis beberapa investor kembali fokus pada kepercayaan bank sentral dalam pertumbuhan ekonomi AS.

“Pernyataan The Fed pada dasarnya adalah lampu hijau bagi perekonomian. Ini adalah konfirmasi bahwa ekonomi AS adalah pemain terbaik bagi investor global,” kata Jeffrey Kravetz, Direktur Investasi Regional US Bank.

Hal lain yang menjadi sentimen adalah adanya pandangan baik yang tertuang dalam data yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua mencapai laju tercepat dalam hampir empat tahun seperti perkiraan sebelumnya.

Sementara indeks material pada S&P 500 merosot 0,97 persen, dan indeks utilitas bertambah 0,96 persen.

Saham yang harus menuai kerugian adalah milik Accenture, yang turun 1,69 persen. Ini setelah laba perusahaan jatuh jauh dari perkiraan analis.

Demikian pula saham operator kapal pesiar Carnival Corp jatuh 4,84 persen setelah perkiraan kuartal keempatnya meleset dari perkiraan.

Adapun volume perdangan di Bursa AS mencapai 6,2 miliar saham, dibandingkan dengan 6,8 miliar rata-rata selama 20 hari perdagangan terakhir.

Perdagangan Saham Sebelumnya

Ilustrasi Foto Perdagangan Saham dan Bursa (iStockphoto)

Penguatan Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street terhenti pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), sementara dolar AS naik usai Bank Sentral AS atau Federal Reserve (AS) menaikkan suku bunga acuan yang menandai berakhirnya kebijakan moneter akomodatif.

Dilansir dari Reuters, Kamis (27/9/2018), dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan pasar kerja yang kuat, The Fed mengindikasikan akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada bulan Desember, tiga kali kenaikan di tahun depan, dan satu lagi pada 2020.

Meskipun dolar AS lebih tinggi, greenback sempat tersandung setelah keputusan The Fed. “Dolar yang kuat telah memorak-porandakan investasi internasional,” kata Jamie Cox, Managing Partner di Harris Financial Group di Richmond, Virginia.

“Jika dolar turun itu sangat bullish untuk pasar negara berkembang, tapi di tempat lain penguatan dolar benar-benar menjadi masalah.”

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 106,93 poin atau 0,4 persen menjadi 26.385,28, S & P 500 kehilangan 9,59 poin atau 0,33 persen menjadi 2.905,97 dan Nasdaq Composite turun 17,11 poin atau 0,21 persen menjadi 7.990,37.

Penguatan dolar AS  juga menekan dolar Kanada, yang mencapai level terendah dalam lebih dari seminggu. Kekhawatiran bahwa Kanada akan ditinggalkan dari kesepakatan perdagangan dengan mitra NAFTA turut membebani.

Imbal hasil obligasi AS turun, dengan kurva imbal hasil kini berada pada level rata-rata dalam lebih dari seminggu. The Fed melihat pertumbuhan ekonomi pada 3,1 persen lebih cepat dari perkiraan tahun ini dan terus berkembang cukup untuk setidaknya dalam tiga tahun depan, di tengah rendahnya angka pengangguran dan inflasi yang stabil di dekat target 2 persen.

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of