Lifestyle

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Di tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), persebaran orang dari kota ke desa tidak bisa betul-betul dikendalikan. Hal ini membuat penularan COVID-19 rawan terjadi di desa.

Masyarakat desa harus siaga menerima kedatangan orang-orang dari kota yang berpotensi menjadi sumber penularan. Padahal di beberapa tempat, sosialisasi penerapan hidup bersih sehat di tengah pandemi saja masih sulit untuk dilakukan.

Cara masyarakat di desa menangkal penularan COVID-19

penularan COVID-19 di desa

Salah satu cerita sulitnya sosialisasi kepada masyarakat di desa diceritakan oleh Nisa, bidan dari organisasi Médecins Sans Frontières (disingkat MSF dan berarti Dokter Lintas Batas) yang bertugas di sebuah puskesmas di Pandeglang, Banten.

Menurutnya, mengajak masyarakat di desa terpencil untuk menyesuaikan hidup untuk mencegah penularan COVID-19 memang menjadi tantangan tersendiri untuk para petugas medis.

“Ini adalah hal yang baru, aturan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Jadi mereka belum mengerti,” kata Nisa dalam webinar bersama relawan MSF Indonesia pada Kamis (14/5).

Di puskesmas tempatnya bekerja, imbauan untuk memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak harus disampaikan berulang-ulang. Menurutnya, untuk mengubah perilaku seseorang itu bukan perihal mudah. 

Nisa mengaku masa awal-awal sosialisasi sangat sulit. Misalnya, kursi tunggu puskesmas yang sudah diberi tanda silang masih tetap diduduki atau kursi plastik yang disusun berjarak akan berpindah dalam waktu cepat.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia

Data Harian

19,189

Terkonfirmasi

4,575

Sembuh

1,242

Meninggal Dunia

Peta Penyebaran

“Itu terjadi tidak sadar ya, karena kan sifatnya kekeluargaan. Mereka maunya dekat-dekat sambil mengobrol,” kata Nisa. 

Belum lagi urusan mengenakan masker yang sebelum pandemi COVID-19 menyerang hampir tidak pernah dilakukan oleh orang-orang di desa. Pengap atau susah bernapas menjadi alasan utama mereka sulit terbiasa dengan masker. 

Namun, Nisa sadar betul, untuk menanamkan kebiasaan yang asing pada masyarakat butuh kesabaran. Jadi, ia harus punya cara sendiri untuk bisa saling mengerti dengan pasien dan masyarakat desa yang ia tangani. 

“Misalnya ibu hamil ya, dia itu tidak pakai masker saja sudah merasa sesak. Jadi saya kasih waktu untuk dia buka masker lalu kami jaga jarak sebentar, dia ambil napas dan tidak bicara dulu,” kata Nisa menuturkan strateginya. 

“Pokoknya kita dulu yang mengikuti pasien dulu, cari cara supaya dia nyaman. Jadi pelan-pelan diberi pengertiannya,” lanjut Nisa.

Selama satu bulan penerapan imbauan tersebut, masyarakat sudah mulai terbiasa menggunakan masker, jaga jarak, dan cuci tangan sebelum dan sesudah pelayanan di puskesmas. Nisa berharap kebiasaan ini terus terbangun sehingga masyarakat desa bisa mencegah penularan COVID-19 terjadi di wilayahnya.

Arus mudik dan risiko penularan COVID-19 di kampung halaman

penularan COVID-19 di desa

Sejauh ini penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB semakin longgar dan berisiko di beberapa wilayah di Indonesia terutama di perkotaan.

Dari pelanggaran physical distancing secara terang-terangan seperti kerumunan di depan gerai Mcdonald’s Sarinah, Jakarta yang sempat viral.

Selama pandemi, polisi melaporkan telah membubarkan kerumunan lebih dari satu juta kali. Hal ini disampaikan Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Polri Ahmad Ramadan dalam keterangan pers Senin (18/5).

Arus mudik saat pandemi pun sulit dikendalikan karena dibukanya izin operasi transportasi darat, laut, dan udara.  Desa menghadapi gelombang pemudik yang berisiko membawa sumber penularan COVID-19.

Pencegahan penularan COVID-19 di desa harus semakin ketat dilakukan.

“Para tenaga medis hanya bisa menjalankan protokol respons pandemi dengan sebaik-baiknya dan berharap tidak terjadi skenario terburuk (dari arus mudik),” ujar Nisa.

Mudik Saat Pandemi COVID-19 Berbahaya, Ini Sebabnya

Di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, para kader dan tim gugus COVID-19 sudah bersiap dan memasang strategi menghadapi pemudik.

Tim tingkat desa/kelurahan akan mendata setiap orang yang tiba dari luar kota maupun dari luar negeri. Mereka melakukan pemeriksaan rapid test dan diawasi untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. 

“Untuk sosialisasi pada masyarakat, kami memanfaatkan masjid untuk sarana sosialisasi berulang setiap hari. Saat ini, masyarakat sudah mulai mengerti,” kata Adi Teguh Ardiansyah, petugas Dinas Kesehatan Dompu yang juga tim gugus COVID-19.

Dikabarkan juga bahwa beberapa tim relawan Dompu mulai melakukan edukasi pencegahan penularan COVID-19 ke pelosok-pelosok desa. Desa-desa yang tidak memiliki banyak akses teknologi informasi.

Imbauan terus dilakukan agar masyarakat yang tinggal di kota tidak perlu pulang kampung ke desa mengingat potensi penularan COVID-19 di kampung halaman.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

The post Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya? appeared first on Hello Sehat.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of