Lifestyle

Operasi Ganti Kelamin Bukan Prosedur Sembarangan, Ini 4 Efek Sampingnya

googleberita

Operasi ganti kelamin adalah tindakan medis dengan risiko efek samping yang besar. Efek samping ini bahkan tidak hanya berlangsung selama masa pemulihan, tapi juga bisa berlangsung seumur hidup. Ini sebabnya setiap orang yang hendak menjalani operasi ganti kelamin harus benar-benar siap dengan segala hasil maupun risikonya.

Beragam efek samping operasi ganti kelamin

Operasi ganti kelamin tidak hanya dilakukan dalam sekali waktu. Pasien harus menjalani terapi hormon dahulu sebelum menjalani operasi. Karenanya, dampak yang dialami pasien tidak hanya terbatas pada komplikasi setelah prosedur ini dijalankan.

Berikut adalah sederet efek samping tersebut:

1. Perdarahan dan infeksi

Ini merupakan efek samping operasi ganti kelamin yang paling sering terjadi. Saat operasi, dokter akan membuat banyak sayatan pada penis atau vagina. Proses tersebut berisiko melukai pembuluh darah dan menyebabkan perdarahan dalam jumlah banyak.

Luka operasi juga rentan terinfeksi oleh bakteri, terutama dari jenis staph. Pada kasus yang parah, infeksi dapat menyebar ke aliran darah dan menyebabkan sepsis. Sepsis yang tidak ditangani dengan tepat berisiko mengakibatkan kegagalan organ.

2. Infeksi saluran kemih (ISK)

Mengingat operasi dilakukan pada alat kelamin, ada kemungkinan bagi bakteri untuk menyebar ke saluran kemih. Hal ini sejalan dengan sebuah survei jangka panjang yang dimuat dalam kongres PRS Global Open tahun 2016.

Beberapa pasien operasi ganti kelamin ternyata mengalami efek samping yang menyerupai gejala ISK. Di antaranya nyeri panggul, aliran urine yang lemah, susah buang air kecil, dan sering buang air kecil pada malam hari.

3. Masalah kesehatan terkait perubahan hormon

Sekitar satu tahun sebelum operasi, pasien akan menjalani terapi hormon. Laki-laki yang ingin menjalani operasi transgender perlu menempuh terapi estrogen untuk memunculkan ciri reproduksi feminin.

Sementara itu, perempuan yang ingin menjalani prosedur ini akan mendapatkan prosedur testosteron guna mendapatkan efek sebaliknya.

Kedua hormon ini tidak luput dari efek samping. Terapi estrogen bisa meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah pada paru-paru dan pembuluh darah di area kaki. Kondisi ini tentu dapat memicu komplikasi saat pelaksanaan operasi.

Sementara itu, terapi testosteron bisa meningkatkan tekanan darah, penurunan respons tubuh terhadap insulin, dan perubahan abnormal pada jaringan lemak. Perubahan ini tentu memicu peluang munculnya obesitas, hipertensi, serta diabetes di kemudian hari.

4. Masalah psikologis

Efek samping operasi ganti kelamin tidak hanya menimpa fisik, tapi juga kondisi mental pasien. Penyesalan biasanya muncul saat operasi yang dijalani ternyata tidak membuat pasien merasa berada dalam tubuh yang selama ini ia dambakan.

Stigma negatif, diskriminasi, dan prasangka dari orang lain juga turut memperburuk kondisi psikologis pasien. Akibatnya, pasien menjadi rentan terhadap gangguan kecemasan, depresi, dan trauma pasca kejadian traumatis.

Menjalani operasi ganti kelamin merupakan suatu langkah yang besar dalam hidup. Pasien harus memiliki pemahaman menyeluruh terkait prosedur operasi, terapi hormon, risiko, serta berbagai komplikasi yang dapat terjadi.

Oleh sebab itu, tim medis biasanya mengharuskan pasien menjalani sejumlah tahapan praoperasi guna menilai kesiapannya. Tahapan tersebut terdiri atas penilaian kesehatan mental, pencatatan terhadap perilaku sehari-hari, serta ‘tes’ dalam kehidupan nyata.

Tes bertujuan untuk memastikan bahwa pasien memang berkehendak mengubah peran gendernya. Setelah seluruh tahapan terlewati, barulah pasien bisa menghadapi operasi ganti kelamin dan dinilai siap menghadapi seluruh efek yang menyertainya.

The post Operasi Ganti Kelamin Bukan Prosedur Sembarangan, Ini 4 Efek Sampingnya appeared first on Hello Sehat.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of