Peristiwa

Musim Hujan Tiba, Banjir Mengintai 131 Desa di Cilacap

Googleberita.com, Cilacap – Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah dikenal sebagai wilayah dengan risiko bencana tertinggi di Jawa Tengah. Tak pandang musim hujan maupun kemarau, bencana mengintai tanpa terkecuali.

Pada musim penghujan, Cilacap rawan banjir, longsor, dan terjangan angin kencang hingga Langkisau. Adapun di musim kemarau, Cilacap rawan krisis air bersih.

Pada kemarau kemarin misalnya, sebanyak 45 desa di Cilacap mengalami krisis air bersih. Padahal, angka ini sudah turun dibanding tahun-tahun sebelumnya, seturut upaya penanganan jangka panjang oleh pemerintah.

Menilik topografi wilayah, Cilacap memang bak supermarket bencana. Wilayah paling rawan longsor berada di pegunungan tengah Jawa yang membentang mulai perbatasan Banyumas-Brebes hingga Jawa Barat di Cilacap bagian barat.

Pun daerah lain di wilayah tengah dan timur Cilacap, dengan kontur kemiringan tinggi perbukitan. Sebanyak 51 desa diidentifikasi sebagai daerah rawan longsor.

Menjelang musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Jawa Tengah juga telah mengidentifikasi 131 desa merupakan wilayah rawan banjir. Ini berarti, nyaris separuh desa di Cilacap yang terdiri dari 284 desa dan kelurahan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Cilacap, Kodirin mengatakan 131 desa dan kelurahan itu tersebar di 21 kecamatan wilayah Cilacap. BPBD mengimbau agar warga mewaspadai kemungkinan bencana banjir memasuki musim penghujan 2018-2019 ini.

Yang patut diwaspadai, ternyata, daerah rawan banjir bukan hanya daerah dataran rendah. Wilayah pegunungan pun tak luput dari ancaman banjir.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Karakteristik Banjir Cilacap: Rendaman dan Banjir Bandang

Dua siswa SD menerabas banjir di Sidareja, Cilacap, Jawa Tengah (20/9/2016). (Foto: Googleberita.com/Muhamad Ridlo)

Hanya saja, karakteristik banjirnya berbeda. Di dataran rendah, banjir bisa merendam berhari-hari. Adapun di pegunungan, banjir bersifat cepat surut.

“Daerah banjir itu bukan hanya di daerah yang landai, yang biasanya langganan banjir. Akan tetapi, sekarang-sekarang ini daerah pegunungan pun kadang-kadang ada banjir,” dia menerangkan.

Kodirin juga memperingatkan, meski banjir di pegununungan cepat surut, akan tetapi sifatnya juga merusak. Pasalnya, aliran air biasanya datang dari sebuah kawasan yang lebih tinggi sehingga kecepatan air pun tinggi.

Banjir cepat di pegunungan itu biasa disebut sebagai banjir bandang. Menilik sifatnya, Banjir bandang cenderung lebih berbahaya dibanding banjir rendaman. Pasalnya, seringkali banjir itu membawa serta lumpur dan material lain.

“Daerah-daerah tertentu yang banjirnya itu karakteristiknya cuma lewat, hanya genangan beberapa jam dan sebagainya,” dia menjelaskan.

Contoh daerah dengan banjir rendaman antara lain, Kecamatan Sidareja, Kedungreja, Gandrungmangu, Bantarsari hingga Kawunganten. Adapun daerah rawan banjir bandang antara lain meliputi Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, Cimanggu, dan beberapa wilayah dengan kontur miring lainnya.

Kodirin memastikan, pada awal musim penghujan ini BPBD telah mempersiapkan sarana pendukung penanganan kebencanaan. Di antaranya, infrastruktur dan perlengkapan pengungsian, logistik, termasuk obat-obatan. Koordinasi dengan lembaga lainnya juga terus dilakukan.

BPBD juga telah mensosialisasikan tanggap darurat bencana di musim penghujan. Harapannya, warga selalu siaga di musim penghujan ini.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of