Reviews

Karyawan Dita (Bomber Gereja Sby) Tidak Pernah Boleh Masuk ke Rumah

Keluarga Dita, pelaku bom bunuh diri di Gereja Surabaya memiliki karyawan, tapi tidak pernah diizinkan masuk ke rumah Dita

Keluarga Dita (Pelaku bom bunuh diri) memiliki karyawan

Keluarga Bomber 3 gereja di Surabaya dikenal sebagai wirausahawan yang memiliki usaha pembuatan minyak kemiri.
Untuk mengembangkan produksi, keluarga ini memperkerjakan seorang karyawan.

“Punya satu karyawan, namanya Rifai. Dia juga nggak menyangka mereka melakukan pengeboman.” kata Lurah Wonorejo Etti Minati.

Etti mengungkapkan, meski bekerja di rumah Dita Oepriarto, Rifai tidak pernah diizinkan masuk ke dalam rumah, sehingga Rifai tidak mengetahui aktivitas yang ada di dalam rumah, di Wisma Asri K/22 Wonorejo Asri, Rungkut, Surabaya tersebut.

“Rifai ini mengolah bahan-bahan untuk pembuatan minyak kemiri. Dia mengambil bahan baku di rumah Pak Dita, lalu diolah sendiri di rumahnya. Kalau sudah selesai, disetorkan. Selama ini dia tidak pernah masuk ke dalam rumah, hanya di teras saja,” terangnya.

Namun, ketika ditanya berapakah usia Rifai, Etti mengaku tidak begitu tahu.
“Pak Rifai orang blok sebelah. Sudah punya keluarga,” jawabnya.

Keluarga Dita tinggal di Wisma Asri sejak 7 tahun yang lalu. Selama ini, mereka hidup normal-normal saja dan berkecukupan. Keluarga ini tampak bahagia.

Karyawan Keluarga Pelaku Bom Bunuh Diri Tidak Pernah Diizinkan Masuk ke Dalam Rumah

“Normal-normal saja, kalah ketemu ya supel. Aktif di jamaah di musala,” terangnya.

Yanto, satpam di perumahan itu, mengungkapkan hal yang sama. Secara kebetulan, di hari pada saat keluarga ini akan melakukan bom bunuh diri, ia pun berjaga di posnya.

“Pagi hari (sebelum beraksi), mereka berangkat bersama pakai mobil. Kebetulan saya yang sedang jaga,” terangnya.

Namun, Yanto tidak pernah menyangka, jika pagi itu keluarga ini akan melakukan hal yang besar dan tak terduga, yaitu pengeboman.

Dita Oepriarto melakukan bom bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), pada Minggu, 13 Mei 2018.
Istrinya, Puji Kuswati, bersama dua anak perempuannya, FS dan FR di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Jalan Diponegoro.
Dan dua anak laki-lakinya, YF dan FH, di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel.

Dalam peristiwa di 3 gereja itu, menyebabkan 18 orang tewas, dan 43 orang mengalami luka-luka.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of