Politik

Kartu Kuning: Aksi Mahasiswa Kepada Presiden Jokowi & Makna

"Kartu Kuning" kepada Presiden Jokowi ini sangat fenomenal, tapi apa arti dari kartu kuning kepada pak presiden?

kartu kuning presiden

Google Berita – Saat acara Dies Natalis UI ke 68 pada tanggal 2 Februari 2018 lalu terjadi hal yang sangat tidak terduga, dimana ketua BEM UI yaitu Zaadit Taqwa secara tiba-tiba berdiri dan memberikan “kartu kuning” kepada Presiden Jokowi setelah ia menyelesaikan sambutan pada acara tersebut. Tentu saja kejadian ini menjadi viral karena kartu kuning sendiri sering kali diibaratkan sebagai tanda peringatan dalam sepak bola. Setelah kejadian itu, berita tersebut menjadi topik hangat di awal tahun 2018. Setidaknya sudah lebih dari 1,8 juta mention di media online dan lebih dari 67 ribu mention di Twitter yang membahas kartu kuning ketua BEM UI. Kartu kuning yang diacungkan kepada Presiden Jokowi menjadi simbol protes dari mahasiswa mengenai kebijakan pemerintah selama periode pemerintahan Presiden Jokowi.

mahasiswa BEM
Kartu Kuning kepada Presiden Jokowi

Hal seperti ini tentu sangat menguntungkan ketua BEM UI karena protes dari mahasiswa akan didengar oleh seluruh masyarakat Indonesia. Banyak sekali pro dan kontra terkait aksi Zaadit Taqwa pada 2 Februari 2018 lalu, banyak masyarakat yang berpendapat bahwa aksi paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden) ketika mengamankan Zaadit Taqwa setelah mengacungkan “kartu kuning” menganggap bahwa pemerintah telah membungkam demokrasi di Indonesia karena tidak ada kebebasan dalam berpendapat. Kejadian tersebut membuat pihak UI mengambil langkah untuk memberikan sanksi kepada Zaadit Taqwa selaku Ketua BEM UI. Ini adalah harga yang harus dibayar ketika mengambil langkah berani untuk menyuarakan pendapatnya dimuka umum, terutama di depan Presiden Indonesia. Akan tetapi ILUNI (Ikatan Alumni Universitas Indonesia) berusaha membantu Zaadit Taqwa agar tidak mendapatkan sanksi. Mereka berharap pihak UI akan melihat aksi tersebut sebagai salah satu bentuk demokrasi di Indonesia.

zaadit taqwa
Zaadit Taqwa kala di pertanyakan perihal maksud “Kartu Kuning” kepada presiden

Zaadit sendiri mengatakan bahwa “kartu kuning” yang ia acungkan kepada Presiden menjadi bentuk peringatan kepada Presiden Jokowi untuk selalu berhati-hati dalam melangkah karena segala kebijakan yang dibuat akan diawasi oleh masyarakat dan mahasiswa tidak akan tinggal diam apabila melihat ada kebijakan yang tidak sesuai. Beberapa lama setelah kejadian tersebut, Zaadit mengatakan tiga isu yang ia angkat pada kejadian 2 Februari 2018 lalu dalam konferensi pers. Pertama mengenai gizi buruk dan juga wabah penyakit yang ada di daerah Asmat, Papua. Hal ini sudah menyebabkan puluhan ribu orang tewas akibat kurangnya akses kesehatan disana. Kedua mengenai rencana pemerintah untuk mengangkat gubernur dari TNI/Polri. Ketiga terkait draft peraturan baru organisasi mahasiswa yang dirasakan akan mengancam kebebasan mahasiswa untuk berorganisasi dan melakukan aktivitas dalam gerakan kritis.

Adi Prayitno selaku Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia sendiri mencermati ada 4 hal dari aksi Zaadi tersebut.

gizi buruk asmat
Kondisi penderita gizi buruk di suku asmat yang sangat memprihatinkan

Pertama terkait kartu kuning untuk Presiden Jokowi, karena sebenarnya dari pihak pemerintah sedang dalam proses penanganan terkait gizi buruk di Asmat.

universitas indonesia tercoreng
Kelakuan Zaadit otomatis mencoreng nama baik UI dan pemerintah

Kedua, aksi ini menjadi viral karena menyinggung etika dan juga kepantasan seseorang ketika menyampaikan protes dalam forum terhormat dan formal di UI. Aksi tersebut dianggap telah melecehkan forum sakral UI yang dihadiri oleh hampir semua orang penting dari UI dan pemerintah.

zaadit taqwa gak pantes
Bukan aktivis dan tidak pantas di sanjung

Ketiga, sebenarnya Zaadit sendiri tidak perlu terlalu disanjung sebagai aktivis karena ia tidak memiliki jejak rekam sebagai seorang aktivis.

 

Keempat, tentunya tidak mudah untuk menyebut diri sebagai seorang aktivis karena seorang aktivis sejati akan menghabiskan waktunya untuk melakukan advokasi kebijakan yang dianggap kurang tepat, gerakan yang dilakukan secara berkelanjutan tidak hanya sebuah spontanitas belaka.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of