Politik

Jurnalis dan Tokoh Agama, Penting Pahami Literasi Digital

Jurnalis dan Tokoh Agama, Penting Pahami Literasi Digital.

Sumenep (beritajatim.com) – Ajang Pemilu maupun Pilkada kerap menjadi area konflik yang dianggap sah dan legal. Bahkan tidak jarang sampai ke taraf kekerasan fisik yang bermula dari fitnah dan hoaks di dunia maya.

Karena itulah, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Surabaya menggelar Fact-check Training for Journalists atau Pelatihan Cek Fakta untuk Jurnalis di Kabupaten Sumenep. Selama 3 hari dari Kamis-Sabtu, 11-13 Agustus 2022, sebanyak 15 jurnalis dan pers mahasiswa antusias belajar dan berdiskusi di Java In Coffee and Resto.

Salah satu trainer yang juga Divisi Data, Informasi, dan Komunikasi AJI Surabaya, Artika Farmita menjelaskan, persebaran berita palsu juga cenderung meningkat di tahun politik, terutama menjelang Pilkada maupun Pilpres.

“Karena itu, peningkatan kapasitas jurnalis sebagai salah satu pilar demokrasi amat penting untuk menghadapi tahun politik. Apalagi pekan ini Indonesia sedang memasuki masa pendaftaran calon partai peserta Pemilu 2024,” ujarnya.

Baca Juga:

  • Jurnalis di Malang Minta Polisi Usut Pelaku Kekerasan
  • Aksi Solidaritas untuk Diananta di Banjarmasin: Jurnalisme Bukan Kejahatan
  • Pandemi Corona, Jurnalis Cantik Ini Tunda Naik Pelaminan Dua Kali
  • Ketua PCNU Kencong: Jurnalis Mendobrak Kezaliman
  • AJI Kediri Luncurkan Sekolah Jurnalistik Jayabaya Institute

Berdasarkan data Kemenkominfo, hoaks di media sosial meningkat signifikan sejak 2018. Apabila dihitung sejak Agustus 2018 hingga pascaPilpres November 2019, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah mengidentifikasi sebanyak 3.901 berita palsu. Hoaks terbanyak ada di kategori politik sebanyak 973 hoaks, sedangkan kategori pemerintahan sebanyak 743 hoaks dan 401 hoaks kesehatan.

“Terutama di Madura yang punya kultur persaudaraan kuat, saat Pilkada bisa rawan perpecahan karena hoaks dan ‘hate speech’ menyebar antar aplikasi perpesanan. Sebenarnya ini sangat bisa dihindari, minimal diredam. Tetapi bisa berbeda cerita kalau jurnalis tidak disiplin memverifikasi hoaks dan malah menyebarkan lewat pemberitaannya,” papar Artika.

Ia menambahkan, tokoh agama juga turut berperan penting dalam literasi media dan mencegah hoaks. Sebab menurut survei Kata Data dan Kominfo pada 2020 di 34 provinsi, sebanyak 50,6 persen orang percaya tokoh agama sebagai asal sumber informasi.

“Karena itulah, dalam pelatihan cek fakta ini, jurnalis dibekali dengan pemahaman tentang landscape hoaks di media, anatomi hoaks, dan peran media. Termasuk keterampilan menggunakan tools verifikasi foto dan video, analisis sumber, audit media sosial, keamanan digital, dan etika pemeriksaan fakta,” terangnya.

Kolaborasi cek fakta di Indonesia sudah dimulai tahun 2016 oleh AJI Indonesia, Mafindo dan Google News Initiative melalui portal cekfakta.com. AJI Surabaya telah menyelenggarakan pelatihan serupa untuk jurnalis di Kota Surabaya dan Kabupaten Sampang. (tem/kun)





Ikuti kami di google berita https://bit.ly/3vWew0y
#beritaviral #jawatimur #viral #berita #beritaterkini #terpopuler #news #beritajatim #infojatim #newsupdate #FYI