Peristiwa

HEADLINE: Horor Likuifaksi di Palu Berpotensi Terulang, Apa Solusinya?

Googleberita.com, Jakarta – Arisan sedang menanam terung saat azan maghrib berkumandang. Pria 45 tahun itu segera menghentikan aktivitasnya untuk menunaikan ibadah salat. Namun, ia tak kuasa melangkah. Dahsyatnya guncangan gempa magnitudo 7,4 pada Jumat 28 September 2018 membuat tubuhnya tak berdaya.

Istrinya, Zumiati yang sedang memasak berusaha keras keluar. “Gempa!,” teriak perempuan itu. Rumah mereka sudah doyong. Suara tembok yang retak terdengar mengerikan. Segala benda berjatuhan, termasuk wajan, panci, sodet dan segala perabotan yang ada di dapur. 

Tiba-tiba bumi terbelah. Lumpur muncrat deras. “Tanah sudah tidak karuan. Naik turun. Tidak ada tempat berlindung. Kita mau injak tanah amblas lagi, tidak ada yang rata,” kata warga Biromaru, Sigi itu kepada Googleberita.com, Senin (8/10/2018). 

Arisan kemudian menyaksikan rumah-rumah di kampungnya bergeser ke arah timur. Ia dan keluarganya segera menyelamatkan diri ke tanggul Petobo. Pria itu hanya bisa menatap sedih tempat tinggalnya yang hancur terbelah tiga, lalu amblas di tengah kubangan lumpur.  

Arisan menduga, tanah di kampungnya amblas sekitar empat meter disebabkan lokasinya di daerah persawahan. “Di atas irigasi-irigasinya mungkin air meresap ke tanah semua. Makanya, tanahnya itu goyang,” kata dia.

Ia mengaku tak pernah mendengar cerita atau hikayat tentang tanah padat yang tiba-tiba mencair dan bergerak naik turun seperti ombak. Apalagi mendengar kata likuifaksi (liquefaction) atau ‘tanah yang mencair’, yang menjelaskan peristiwa horor yang dialaminya. 

Peristiwa serupa juga terjadi di Kompleks Balaroa, Palu. Bahkan lebih parah. Area seluas 47,8 hektar hancur karena likuifaksi. Sekitar 1.747 rumah amblas bersama segala isinya, termasuk manusia-manusia di dalamnya.

Zainal sedang ada di kantor saat gempa mengguncang. Ia pun lari tunggang-langgang menuju rumahnya di Perumnas Balaroa. Hatinya tak karuan memikirkan nasib istrinya, Hilda dan anak-anak mereka. 

Belum sampai ke tujuan, ia bertemu keluarganya. “Kami melihat rumah kami masuk ke dalam tanah,” ucap dia. “Hampir 100 persen rumah rata dengan tanah, banyak korban meninggal.”

Tak hanya kehilangan tempat tinggal. Zainal juga kehilangan tujuh anggota keluarganya. Sementara, lima lainnya dipastikan meninggal dunia. 

Kini, tak lagi ada seruan-seruan minta tolong yang sempat terdengar pada awal kejadian likuifaksi. 

Tanah di Balaroa sudah mengeras, meski belum padat. Tim SAR, TNI, dan relawan terpaksa menggunakan alat berat untuk mengevakuasi korban yang masih tertimbun. 

Karena likuifaksi berpotensi terjadi di tempat yang sama. Peristiwa mengerikan ini mungkin akan terulang. Entah kapan.

Infografis Likuifaksi Fenomena Tanah Bergerak (Googleberita.com/Triyasni)

Tak Boleh Dihuni

Usai mengalami likuifaksi, tiga kelurahan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, yaitu Petobo, Balaroa dan Jono Oge akan ditutup dan tak lagi dijadikan hunian masyarakat.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, pemerintah berencana membangun ruang terbuka hijau dan monumen untuk dijadikan sebagai tempat bersejarah.

“Lokasi likuifaksi itu akan ditutup dan akan dijadikan ruang terbuka hijau serta menjadi memorial park atau tempat bersejarah dan akan dibangun monumen,” kata Sutopo di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Selasa (9/10/2018).

Selain itu, ia mengungkapkan, para korban yang selamat dari musibah itu akan menggelar doa bersama untuk mereka yang tewas. Doa bersama rencana akan dilakukan pada Kamis besok.

Doa bersama itu juga bertepatan dengan berakhirnya masa pencarian korban di lokasi likuifaksi Kota Palu. Penghentian pencarian tersebut mempertimbangkan kondisi jenazah yang ditemukan dalam keadaan terurai dan sudah tak lagi dikenali.

“Korban yang berhasil dievakuasi, jika sudah 14 hari itu sudah melepuh atau susah dikenali. Jenazah yang ditemukan langsung dimakamkan. Karena berpotensi menimbulkan penyakit,” ungkap Sutopo.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan menghentikan pencarian korban meninggal dunia pada Kamis besok di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Wilayah yang akan dihentikan itu yakni di Kelurahan Petobo, Balaroa dan Jono Oge.

Sutopo mengatakan, ketiga daerah yang dihentikan untuk pencarian korban itu merupakan wilayah yang terjadi atau terkena likuifaksi. “Jadi mulai 11 Oktober 2018 secara resmi proses evakuasi disetop,” kata Sutopo.

Saksikan video terkait likuifaksi berikut ini: 

Nalodo yang Terlupakan

Pantauan udara ratusan rumah terendam lumpur dan tanah di Petobo, Palu Selatan, Sulawesi Tengah, Rabu (3/10). Fenomena likuifaksi tersebut terjadi pasca gempa berkekuatan 7,4. (Googleberita.com/Fery Pradolo)

Bencana rangkap tiga melanda Palu dan sekitarnya pada 28 September 2018: gempa, tsunami, dan likuifaksi.

Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan, hal itu tergolong unik.  “Kejadian ini juga belum pernah ada dalam sejarah kegempaan, meskipun dalam gempa paling diikuti likuifaksi iya, gempa diikuti tsunami iya dan itu enggak semua. Nah ini semua terjadi di Palu, gempa, tsunami dan likuifaksi,” kata dia saat dihubungi Googleberita.com, Selasa (9/10/2018). 

Sejatinya bukan kali ini saja likuifaksi melanda Palu. Rahmat mengatakan, terdapat riwayat likuifaksi di ibu kota Sulawesi tengah itu. Namun, kisah tentang malapetaka itu tak diwariskan hingga generasi saat ini. 

Di wilayah tersebut, dikenal istilah nalodo yang berarti amblas dihisap lumpur. “Itu sudah pernah terjadi beberapa puluhan tahun lalu, itu sudah ada,” kata dia.

Dia mengatakan, ke depan perlu ada survei mengenai titik mana saja yang rawan likuifaksi. Tim dari geologi atau BMKG harus turun memetakan tata kota Palu ke depan, mana yang aman dan mana yang bahaya.

Rahmat menyebutkan, tanah bekas likuifaksi sebaiknya tidak digunakan lagi. Sebab, sejarah bisa kembali berulang di masa depan. Jika gempa kembali mengguncang.

Senada, Peneliti Puslit Geoteknologi LIPI Adrin Tohari menambahkan, lebih baik masyarakat yang menempati kawasan bekas likuifaksi direlokasi. Selain mahal, perbaikan untuk memadatkan tanah justru berpotensi bahaya.

“Karena likuifaksi juga akan terjadi terus menerus. Kalau terjadi bencana yang sangat kuat, tanah itu akan terus mengalami likuifaksi di lokasi yang sama,” kata dia kepada Googleberita.com.

Adrin mengatakan, tidak masalah bila lahan bekas likuifaksi dijadikan tempat budi daya seperti pertanian dan perkebunan, atau untuk olahraga. Asal, jangan untuk kawasan hunian.

Pemetaan di Palu juga harus diperjelas, mana yang rawan terkena dampak tsunami, guncangan gempa, dan likuifaksi. 

Mengapa Hanya di Beberapa Titik?

Adrin Tohari mengatakan, ada pertanyaan besar yang belum terjawab, mengapa likuifaksi hanya terjadi di beberapa titik saja seperti Balaroa, Petobo, hingga Jono Oge. 

Kemungkinan besar, kata dia, ada faktor di bawah permukaan tanah yang mengontrol fenomena likuifaksi di daerah tersebut.

“Ini yang jadi pertanyaan kami untuk ketahui. Faktor apa yang kontrol likuifaksi dahsyat di lokasi itu,” kata Adrin.

Dia mengatakan, wilayah yang mengalami likuifaksi harus dihindari, terutama untuk hunian. Namun, likuifaksi yang berupa semburan pasir masih bisa diatasi, dengan bangunan yang ditinggikan.

“Ketika likuifaksi, air ke atas akan merusak lantai rumah, dan penurunan pondasi. Jadi pondasi harus kuat untuk tempat tinggal. Lantai harus dinaikkan. Kalau misalnya bangunan bertingkat, pondasi harus dalam dan lapisan tanah keras,” kata dia.

Dia mengatakan, untuk wilayah lingkup perumahan, harus diperbaiki kepadatan tanahnya karena likuifaksi terjadi di tanah gembur. Tanah padat, ketika menerima guncangan gempa, tidak akan menimbulkan likuifaksi.

Metode pemadatan tanah juga harys digunakan untuk proyek pembangunan infrastuktur penting seperti di bandara, pelabuhan, yang dekat dengan laut.

Masyarakat terutama di daerah pesisir, ketika membangun rumah, diimbau agar lantai dibuatseperti semi panggung. Hal ini berkaca dari gempa Padang 2009. Kala itu, banyak bangunan yang rusak dan lantainya naik setengah meter sementara pondasi turun setengah meter, namun bangunan masih utuh berdiri.

Sementara itu, Ahli Geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Imam Sadisun mengatakan, llikuifaksi terjadi di tanah yang jenuh air, di endapan lepas, di mana konsolidasi tanah tak terlalu padat, hingga muka air tanah yang tidak terlalu dalam.

Likuifaksi bisa dipicu gempa kekuatan magnitudo di atas 5 dan yang kedalamannya dangkal.

Imam menyatakan, likuifaksi di Palu dan sekitarnya sangat dahsyat. Berbeda dengan wilayah lain yang tidak mengakibatkan kerusakan masif.

“Di Lombok ada retakan keluar pasir dan keluar air seperti muncrat membawa material pasir dan sumur penduduk keluar pasir,” kata Iman. Selain Palu dan Lombok, likuifaksi juga terjadi saat gempa di Aceh pada 2004, Yogyakarta dan Bengkulu.”

Imam mengatakan, likuifaksi terjadi pada kedalaman kurang dari 20 meter, artinya tanah yang sifatnya menjadi air dalamnya tidak lebih dari 20 meter. Jadi, jika ada bangunan dengan pondasi sedalam 50 hingga 100 meter, baru dipastikan aman dari bahaya.

 

Niigata hingga Sodom

Pantauan udara ratusan rumah terendam lumpur dan tanah di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (3/10). Fenomena likuifaksi merupakan hilangnya kekuatan tanah akibat besarnya massa dan volume lumpur yang keluar pasca gempa. (Googleberita.com/Fery Pradolo)

Ini yang dikisahkan dalam kitab suci tiga agama, Yahudi, Kristen, dan Islam: api dan belerang panas berjatuhan dari langit. Sementara itu, bumi gonjang-ganjing. Kota Sodom dan Gomora binasa dalam sekejap. Hilang tertelan Bumi. Situasi dramatis itu dipicu kemarahan Tuhan atas dosa-dosa para penghuninya.

Apakah Sodom dan Gomora hanya sekedar kisah atau nyata terjadi, para arkeolog, ilmuwan gempa, dan ahli agama belum mencapai kata sepakat.

Namun, pada tahun 2011, ahli geologi asal Inggris Graham Harris dan Anthony Beardow mengungkapkan, dua kota tersebut mungkin nyata. Letaknya diduga di semenanjung Laut Mati.

“Mungkin kita akan menemukan benda-benda dari kota itu. Misalnya tanda ‘kereta kuda dlarang masuk’ di luar balai kota Sodom,” kata Harris seperti dikutip dari Independent.

Dalam jurnal Quarterly Journal of Engineering Geology, kedua ilmuwan berpendapat bahwa kisah Sodom dan Gomorah, didasarkan pada realitas geologis, bukan mitos belaka.

Harris yakin, kota Sodom terkubur di bawah lapisan lumpur dan puing-puing. Pun dengan manusia-manusia di dalamnya.  

Para ilmuwan juga mencoba menguak misteri penyebab lenyapnya Sodom dan Gomora yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 1900 SM. Tersangkanya, menurut Harris dan Beardow adalah likuifaksi.

Pendapat tersebut didukung catatan sejarah tentang peradaban masa lalu yang musnah ditelan bumi. 

Misalnya, di Yunani pada abad ke-4 SM, sebuah kota hancur oleh likuifaksi atau runtuhnya tanah dalam peristiwa gempa bumi. Di Kansu, China, sebuah area yang sangat luas hilang karena likuifaksi pada tahun 1920.

Dan, yang terpenting pantai timur Laut Mati — di mana Sodom dan Gomora diperkirakan berada, terletak di sepanjang patahan geologi, di mana gempa bumi sering terjadi.

Lindu besar, kata para ahli geologi, bisa menyebabkan likuifaksi dalam skala yang cukup besar untuk menelan kota Sodom, pun dengan Gomora.

Gambaran apokaliptik bak negara dunia saat Sodom tenggelam di dalam tanah, mungkin dipicu bitumen yang terbakar. Yang menimbulkan efek seperti hujan api.

Sementara, seperti dikutip dari situs Berkeley Seismology Lab, kali pertama para seismolog mengetahui secara utuh peristiwa likuifaksi adalah pada 1964.

Kala itu, pada 16 Juni 1964 sekitar pukul 13.01 waktu setempat, gempa dengan magnitudo 7,5 atau 7,6 mengguncang Niigata, Jepang.

Kota Niigata, yang baru saja pulih dari kebakaran besar pada tahun 1955, rusak berat akibat guncangan dahsyat juga likuifaksi.

Dampak likuifaksi akibat gempa di Niigata, Jepang pada 1964 (Wikipedia/Public Domain)

Sejumlah bangunan apartemen tenggelam ke tanah atau bahkan terbalik saat tanah padat berubah cair dan kehilangan daya topangnya.

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of