PeristiwaPolitik

Dosen UNM Pelaku Pembunuh Istri Pejabat Mendekam di Penjara Selama 15 Tahun.

Wahyu di jerat pasal berlapis, dan terancam hukuman 15 tahun penjara.

Dosen UNM (Universitas Negeri Makassar) yang bernama Wayhu Wijaya terancam hukuman 15 tahun penjara setelah ditetapkan menjadi tersangka atas pembunuhan Siti Zulaiha yang ditemukan tewas mengenaskan di Kecamatan Pattalassanf Kabupaten Gowa, Jumat pada tanggal 22 Maret 2019 lalu.

Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga mengatakan, Wahyu terjerat pasal berlapis yaitu Pasal 338 KUHP tentang pembunuh dan Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiayaan berat yang mengakibatkan matinya orang. ”Kami belum melihat adanya perencanaan sehingga kami tidak menerapkan Pasal 340 KUHP,” jelasnya ketika menggelar jumpa pers, Minggu tanggal 24 Maret 2019.

Menurut Shinto, Pemeriksaan terhadap Wahyu menghabiskan waktu selama 5 jam mulai pukul 13.00 Wita sampai pukul 18.00 Wita yang didampingi kuasa hukum. Pada saat itu juga Wahyu telah ditetapkan sebagai tersangka.

Setelah 5 jam menjalanin pemeriksaan, Shinto mengatakan hasil dari pemeriksaan tersebut diketahui motif dan alasan Wahyu menghabisi ibu dari 3 anak tersebut dikarenakan emosi sesaat. Wahyu mengatakan ia tersinggung atas perkataan serta perbuatan yang dilakukan Zulaiha selama perjalanan mereka dari Komplek Ruko Perum Permatasari Jalan Sultan Alauddin Makassar menuju Gowa.

Saat melakukan perjalanan tersebut mereka menggunakan mobil milik Zulaiha dan di dalam mobil tersebut hanya ada mereka bedua. Mobil Wahyu sendiri di tinggalkan di Kompleks Ruko Permatasari.

Shinto menjelaskan secara rinci keinginan dari korban yang mencampuri hal-hal yang bersifat sangat privasi dari pelaku, memicu terjadinya percekcokan besar diantara mereka. Bahkan korban sempat menampar pipi pelaku. dikarenakan pelaku terpancing emosi atas perbuatan korban, pelaku pun akhirnya lepas kontrol dan melakukan kekerasan terhadap korban.

”Pukul 19.30 wita terjadi cekcok di sepanjang jalan pinggiran Danau Mawang. sekitar pukul 20.05 wita pelaku emosi dan menghentikan kendaraan di Jalan STPP Gowa lalu dengan emosi melakukan kekerasan fisik berkali-kali terhadap korban hingga pada akhirnya korban pun meninggal dunia,” jelasnya.

Sayangnya, mantan Kasat Reskrim Polres Surabaya ini belum mau menceritakan secara gamblang bagian privasi yang dimaksud dengan alasan merupakan bagian dari penyidikan.

Shinto hanya memberi gambaran jika hal yang dimaksud privasi itu berhubungan dengan dunia kampus karena mereka berdua berkerja di kampus yang sama, menghabiskan paling banyak waktu di kampus, meski dari unit yang berbeda. Shinto pun berjanji akan memperjelaskan hal itu lebih gamblang, pasca tersangka diperiksa oleh tim psikiater RS Bhayangkara Polda Sulsel.

Ia menjelaskan, korban meninggal dunia setelah pelakukan melakukan penekanan pada batang leher akibatnya tulang leher korban patah dan itu menyebatkan saluran pernafasan tersumbat.

Shinto pun melanjutkan, pada tubuh korban sebelumnya juga terdapat luka pada kepala belakang tengah yang teridentifikasi beberapa kali terkena hantaman benda tumpul. Luka tersebut disebabkan cincin pelaku yang bermotif batu.

Maka dari itu ia menepis kuat isu asmara yang melekat antara korban dan pelaku. begitu pula dengan adanya motif utang piutang.

”Polres Gowa belum pernah merilis soal hubungan spesial antara pelaku dan korban, pelaku sendiri pun menyakinkan dalam berita acara tidak mempunyai hubungan istimewa dengan korban. Kami juga belum menemukan adanya bukti transaksi uang.  ketika olah TKP hanya terdapat dokumen pribadi milik korban seperti kartu akses dan beberapa kartu lainnya. belum ada yang terkait dengan pelaku,” jelasnya.

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of