Peristiwa

Dongeng Tetua Selamatkan Warga Pulau Simeulue dari Tsunami

Googleberita.com, Jakarta – Diceritakan, lagi dan lagi, terus berulang sampai turun-menurun, Dongeng tetua ternyata bukan sekedar pengantar tidur, melainkan juga jembatan untuk tahu apa-apa di masa lalu. Cerita ini nyatanya bisa jadi penyelamat di masa sekarang, seperti kisah yang dialami warga di Pulau Simeulue.

Berjarak sekitar 150 kilometer di sebelah barat pesisir Aceh, pulau ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Ketika tsunami menghantam pesisir sebagian besar wilayah Serambi Makkah hampir 14 tahun lalu, Simeulue jadi salah satu pulau yang berada dekat dengan pusat gempa.

Sementara di bagian Aceh lain ratusan ribu jiwa melayang, korban di Pulau Simeulue tercatat tujuh jiwa. Fenomena ini ternyata terjadi lantaran ingatan akan dongeng leluhur tentang pulau ini dan smong, bahasa lokal untuk tsunami.

Dilansir seattletimes.com, pada 1907, smong pernah menghantam Simeulue. Korban jiwa yang tercatat saat itu cukup banyak. Belum lagi berbicara tentang jumlah rumah warna yang hancur serta harta benda lenyap dalam sekejap.

Sejak itu, smong kemudian menjadi pelajaran hidup bagi masyarakat Pulau Simeulue. Melalui adat tutur, cerita turun-menurun yang juga dirangkai dalam bentuk syair membuat warga lokal siap sewaktu-waktu tsunami datang.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Syair Penyelamat Warga Pulau Simeulue

Ilustrasi tsunami (unsplash/  Holger Link)

Jika kau rasa bumi itu bergetar, lalu air laut menghilang. Janganlah kamu berlari ke pantai dan memungut ikan. Segeralah lari ke bukit atau tempat tertinggi. Tak lama setelah laut menghilang, smong akan tiba dan mengambil semua yang dilintasinya,” tulis akun Instagram @poeticpictureRabu, 3 Oktober 2018.

Melalui dongeng yang juga dijabarkan di rentatan syair ini kakek-nenek dan orang tua terus menerus bercerita kisah memilukan satu abad lalu. Karenanya, ketika tsunami pada 2004 menghantam, masyarakat Simeulue sudah mengetahui langkah apa yang harus dilakukan.

Pesan lain yang tersirat dalam dongeng turun-menurun ini adalah andai ada gempa kuat, disusul air laut surut, jangan ke tepi pantai memungut ikan yang bermunculan di tepi pantai karena sebentar lagi akan datang smong.

Jika itu terjadi, berlarilah ke gunung menyelamatkan diri. Bawalah anak-anak, orang tua, dan perempuan berlari menjauhi pantai. Berteriaklah, smong… smong…smong….

Begitulah dan budaya Pulau Simeulue yang terus terjaga bisa menyelamatkan warganya. Mereka tahu harus berbuat apa ketika smong atau tsunami datang. Bukan dari peringatan secara ilmiah, tetapi melihat tanda-tanda alam.

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of