Politik

Calo PPPK Kumpulkan Rp 600 Juta, Tiap Korban Setor Hingga Rp 70 Juta

Calo PPPK Kumpulkan Rp 600 Juta, Tiap Korban Setor Hingga Rp 70 Juta.

Ponorogo (beritajatim.com) – Uang ratusan juta terkumpul dari praktik percaloan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Ponorogo. Informasi dari tim khusus yang melakukan investigasi terkait kasus percaloan ini, uang yang sudah disetor ke inisial D, warga Jombang yang mengaku sebagai panitia seleksi nasional (Panselnas) sebanyak Rp 600 juta.

“Uang yang disetorkan ke pelaku D sekitar Rp 600 juta. Yang menyetorkan itu adalah oknum PPPK sendiri, yakni inisial AR yang berperan menjadi ketua koordinator,” kata Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Ponorogo Andy Susetyo, Kamis (22/9/2022).

Hasil investigasi tim khusus yang terdiri dari BKPSDM, inspektorat, dan bagian hukum menemukan beberapa dokumen yang penting untuk dijadikan barang bukti. Setidaknya ada dua temuan dokumen yang dimaksud. Yakni dokumen penitipan ijazah sebagai jaminan. Selain itu juga ada dokumen komitmen tentang penyelesaian setelah diangkat PPPK, para korban ini harus membayar Rp 60 juta hingga Rp 70 juta per orangnya. “Jadi korban yang sudah diangkat PPPK itu, disuruh untuk menyetorkan uang senilai Rp 60 juta hingga Rp 70 juta per orang,” katanya.

Baca Juga:

  • BKPSDA Bangkalan Tunggu Juknis Seleksi PPPK 2021
  • Tes SKD Hari Pertama, Pemkot Kediri Siapkan 5 Face Recognition
  • Banyuwangi Lakukan Rekrutmen PPPK, Ini Rinciannya
  • Lowongan CPNS dan PPPK Gresik Belum Banyak Terisi
  • Terima SK PPPK, Puluhan Guru di Kota Kediri Bahagia

Nah, puluhan PPPK yang terlibat jaringan calo inilah yang berperan mengumpulkan uang setoran dari korban. Selain itu, juga untuk mencari korban dan menawari jalan pintas untuk menjadi PPPK dengan menyetorkan sejumlah uang. Dari 27 PPPK yang terlibat, rincian keterlibatannya guru PPPK berinisial AR sebagai ketua koordinator. Sebanyak 11 PPPK lainnya ditunjuk koordinator dan sisanya 15 PPPK berperan membantu koordinator.

Nah, dalam perjalanannya, sebanyak 16 guru honorer yang sudah diterima sebagai PPPK tidak menyerahkan sejumlah uang yang sudah disepakati. Tidak patah akal, si otak calo ini pun menyuruh 16 orang ini untuk menebus ijazah yang sudah ditahan sebelumnya. Mereka juga ditakut-takuti bahwa pengangkatan PPPK bakal dibatalkan. Alhasil, hingga sekarang, masih ada 16 ijazah yang ditahan. “Mencuatnya kasus percaloan ini, ya pemilik ijazah yang ditahan itu mengadu kepada BKPSDM Ponorogo,” kata mantan kepala Dipertahankan itu.

Untuk diketahui sebelumnya, praktik terpuji praktek percaloan PPPK terkuak. Tim khusus yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) itu, akhirnya mengungkap ada 30 pelaku percaloan. Mereka terdiri dari pihak eksternal yakni broker asal Jombang berinisial D dan pensiunan aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo berinisial SJ. Sementara pelaku dari internal, yakni seorang ASN aktif di Dindik Ponorogo berinisial SU dan 27 orang yang saat ini menjabat PPPK.

Kronologis praktek culas itu terjadi pada bulan Juni 2021 lalu, sebelum adanya pengumuman rekrutmen PPPK. Hal itu berawal saat broker asal Jombang berinisial D itu mengaku sebagai panitia seleksi nasional (Panselnas). Pelaku D menjalin komunikasi dengan pelaku pensiunan ASN berinisial SJ. Dari komunikasi yang dilakukan, pelaku D dipertemukan dengan para guru PPPK (statusnya saat itu masih menjadi guru honorer). “Pelaku D yang mengaku dari Panselnas bicara dengan guru honorer bisa membantu menjadi PPPK. Tentu dengan menyerahkan sejumlah uang dan ijazahnya,” kata Andy.

Dalam perkembangan investigasinya, tim khusus akhirnya membuat kesimpulan bahwa ada satu ASN aktif yang berada di Dindik Ponorogo yang juga ikut terlibat rekrutmen PPPK lewat jalur tak biasa ini. Dari 27 PPPK yang juga jadi pelaku, sebanyak 11orang tercatat sebagai koordinator. Dimana ketua koordinatornya berinisial AR, yang merupakan PPPK guru olahraga yang bekerja di lingkup Kecamatan Ponorogo Kota. “Dari 30 pelaku ini, otak dalam kasus ini adalah D, yang mengaku menjadi Panselnas. Sementara untuk pelaku dari PPPK, juga sebagai korban,” pungkasnya. (end/kun)




Ikuti kami di google berita https://bit.ly/3vWew0y
#beritaviral #jawatimur #viral #berita #beritaterkini #terpopuler #news #beritajatim #infojatim #newsupdate #FYI