Peristiwa

Budi Ajak Warga Bernyali Terbang di Langit Garut

Googleberita.com, Garut – Bagi perwira menengah Polda Jabar ini, dataran tinggi dan pegunungan Garut, Jawa Barat ibarat lintasan lomba yang tidak boleh dilewatkan. Hobinya melebarkan sayap terbang paralayang di atas ketinggian, seolah bersatu dengan iklim Garut yang dingin nan segar.

Tak ayal, mimpinya mengenalkan sekaligus membawa olahraga ekstrem ini ke kancah dunia, semakin menggebu.

“Nanti awal tahun (2019) ada dua kejuaraan nasional dan internasional yang akan kita gelar,” ujar Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna mengawali pembicaraanya dengan Googleberita.com, Minggu (14/10/2018).

Kontur geografis Garut sebagai daerah dataran tinggi dan pegunungan, sangat cocok untuk pengembangan olahraga ekstrem itu. Tiupan angin yang mendukung, seakan berpadu dengan panorama alam Garut yang dikenal indah.

“Sayang kalau tidak menikmati Garut dari ketinggian, pokoknya indah deh,” ujar dia mencoba merayu terbang di atas ketinggian gubung Guntur Garut.

Budi mengakui, olahraga paralayang memang memiliki resiko cukup tinggi, selain ketahanan fisik yang baik, juga dibutuhkan ekstra nyali. Namun hal itu sebanding dengan kepuasaan tiada tara yang akan didapatkan saat terbang di atas ketinggian.

“Tapi buat pemula kan nanti ada tandem yang mengawal,” kata dia meyakinkan keselamatan penerjun pemula.

Keberanian Budi memang patut diacungi jempol. Untuk mengenalkan olahraga ini, ia rela membuka jalur baru ke puncak bukit berketinggian 1.450 meter diatas permukaan laut (MDPL) yang mencapai belasan kilometer.

“Nanti suatu saat kawasan itu tidak hanya terkenal paralayangnya, tapi bakal jadi pusat wisata baru,” ujar dia memprediksi projek prestisiusnya itu.

Ia pun mengajak masyarakat sekitar memulai pembangunan jalan Rekonfu (nama jalan untuk mengenal salah satu angkatan pendidikan di kepolisian) yang menantang dengan panorama gunung Cikuray, kota Garut, hingga landasan untuk penerjunan paralayang. 

Hasilnya, sejak pertama kali dikenalkan awal tahun ini, animo masyarakat mengenal olahraga yang satu ini melesat tinggi.

Ratusan orang, mulai dari pelajar, mahasiswa, bahkan masyarakat umum, seolah terpanggil mendatangi bukit Parama Satwika (PS) di kawasan Gunung Putri, Garut setiap minggunya, hanya untuk menyaksikan dari dekat persiapan terbang paralayang.

Budi berharap, rintisannya mengenalkan olahraga ekstrem paralayang di kabupaten Garut, mampu menghasilkan penerjun handal nasional untuk mengharumkan nama Indonesia.

“Potensi atlet Garut itu sangat melimpah, tinggal bagaimana kita mengenalkan pada mereka,” ujar dia.

Obar Sobarna (42), warga Samarang yang gowes ke atas bukit, mengatakan, pembukaan jalur baru di area bukit PS, dianggap tepat membuka spot wisata baru, sekaligus mengenalkan olahraga paralayang ke depan. 

“Saya sendiri jika ada kesempatan ingin mencoba terbang meskipun tandem,” kata dia sambil tersenyum lebar.

 

Pola Pendekatan Polisi

Tanpa malu Kapolres Garut memborong barang dagangan milik penjual nenek tua (Googleberita.com/Jayadi Supriadin)

Sejak pertama kali didapuk memimpin Garut November akhir tahun lalu, mental Budi sebagai orang pertama di Polres Garut langsung diuji. Dimulai dengan pilkada Garut, kemudian hoaks penganiayaan kiai atau ulama yang lumayan menguras energinya. Beruntung semuanya dapat diselesaikan dengan cepat.

“Saat hoaks itu (pengeroyokan marbut masjid), saya benar-benar diuji, Alhamdulillah lancar dan tidak terbukti, akhirnya masyarakat serta tokoh Garut semua mendukung saya,” ujar dia.

Bagi masyarakat Garut, kehadiran Kapolres Budi memang pengecualian dibanding sebelumnya, meskipun dikenal tegas dan displin, namun jangan salah perwira melati dua ini, justru sebaliknya, ia dekat dengan warga.

Tak jarang ia merogoh koceknya sendiri untuk berbagi dengan masyarakat, saat kunjungan ke lapangan. “Saya asal ada yang memberi tahu untuk dibantu ya kita tengok,” ujarnya dengan logat sundanya yang medok.

Terlahir dengan trah leluhur asli Garut dari jalur ibu, kota Intan memang seolah kampung halaman kedua baginya. Sehingga kegiatan blusukan seolah santapan wajib yang tidak boleh dilewatkan.

Tak pelak, hampir satu tahun masa dinasnya di Garut, sebagian besar dihabiskan di lapangan. “Saya keluar mulai 07.00 pagi briefing, lanjut ke lapangan, paling jam 11.00 malam baru pulang rumdin (rumah dinas),” ujar Budi membuka rutinitas kesehariannya.

Menurutnya, pola polisi mendekati masyarakat dengan berbagi, dirasa lebih efektif saat melakukan pembinaan, sehingga setiap kunjungan yang dilakukan, ada saja pemberian bagi masyarakat.

“Terakhir kita berikan air bersih gratis buat masyarakat Wanaraja dan Cibatu, kita bantu lah, kan itu kewajiban kita juga,” ungkap dia bangga.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of