Politik

Asisten II Pemkab Jember dan Istri Meninggal Dunia Hari Ini








Jember (beritajatim.com) – Dedi Mohamad Nurahmadi, Asisten II Bidang Perekonomian Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, dan istrinya Utiek Rachmatillah meninggal dunia di Rumah Sakit Jember Klinik, Kamis (22/7/2021). Mereka dimakamkan dengan protokol Covid-19.

Utiek meninggal dunia lebih dulu dalam usia 59 tahun pada pukul 00.44 WIB. Belasan jam kemudian, pada pukul 16.47 WIB, giliran Dedi menyusul dalam usia 58 tahun. Mereka meninggalkan dua orang anak yang tinggal di Jakarta dan Kabupaten Banyuwangi, dan dimakamkan di pemakaman Desa Patemon, Kecamatan Tanggul, Jember.

Sebelum sakit, Dedi banyak berfokus menyelesaikan pekerjaan sebagai Pelaksana Tugas Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Pendalungan. Beberapa hari setelah dia dilantik, Abdul Muqiet Arief, Wakil Bupati Jember 2016-2021, sempat mengucapkan selamat dengan nada canda. “Panjenengan sekarang di PDAM. Selamat. Insya Allah tidak akan pernah haus, karena selalu bersama dengan air,” kata Muqiet.

Dedi tertawa. “Alhamdulillah, alhamdulillah. Saya ditempatkan di mana saja insya Allah tugas akan saya laksanakan sebaik-baiknya sesuai kemampuan saya,” katanya.

Kabar jika Dedi sakit justru didengar Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Arismaya Parahita dari Sekretaris Daerah Mirfano. “Pak Dedi terkonfirmasi positif Covid,” kata Mirfano.

Baca Juga:

  • Dinas Pariwisata dan Dinas Pemuda Olahraga Jember Pindah ke JSG
  • Legalitas Ribuan Ijazah Lulusan SD dan SMP di Jember Dipertanyakan
  • Tempat Tidur Isolasi Tinggal 16 Persen, Pemkab Jember Siapkan 3 Hotel
  • Kemenkeu Jatuhkan Sanksi kepada Pemkab Jember
  • Siang Ini, Sidang Paripurna DPRD Jember Bahas Usulan Hak Angket

Menurut Arismaya, Dedi dikenal sangat loyal kepada Mirfano. Begitu mendapatkan tugas menjadi Pelaksana Tugas Asisten II, ia menempati rumah dinas Mirfano. Rumahnya sendiri di Kecamatan Tanggul dan tidak punya sopir untuk berangkat dan pulang kerja setiap hari. “Jadi dia diminta Pak Sekda untuk menempati rumah itu,” katanya.

Arismaya mengonfirmasi kabar itu langsung ke Dedi. “Iya, Mas, betul. Sudah diperiksa oleh dokter Puskesmas Sumbersari,” jawab Dedi.

Arismaya menyarankan agar Utiek kembali ke Tanggul selama Dedi menjalani masa isolasi mandiri. “Pokok beres, waras,” kata Arismaya kepada Dedi.

Namun rupanya Utiek menolak meninggalkan sang suami yang sedang berjuang untuk sembuh. Dia tipe perempuan yang patuh dan memilih untuk mendampingi Dedi di rumah dinas.

Selama masa isolasi mandiri, Dedi dan Arismaya saling kontak via ponsel setiap usai salat Subuh. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Petunjuk, Bapak?” selalu begitu Dedi menyapa Arismaya.

“Pak Dedi ini diangkat menjadi pejabat bukan karena kompetensi pemerintahan atau birokrasi, tapi karena kebaikan hatinya. Kepolosannya. Kejujurannya, yang membuat pimpinan kesengsem dengan dia,” kata Arismaya.

Arismaya berteman dekat dan Dedi sering bertanya soal banyak hal terkait tugas keseharian, mulai dari cara memimpin rapat, telaah staf, sampai memimpin birokrasi. “Kalau dia tidak mengerti, dia akan bertanya. Dia sosok orang yang mau belajar, lugu, dan ikhlas. Dimintai tolong mudah sekali, setia kepada pimpinan dan teman,” katanya.

Direktur RS Daerah dr. Soebandi, Hendro Soelistijono, punya pengalaman baik dengan Dedi. “Dia suka membantu. Saya sering diberi jamu kalau ke rumahnya. Istrinya yang meracik,” katanya.

“Yang paling berkesan pada Pak Dedi dan Bu Dedi adalah sering membawakan makanan ringan seperti pisang, jeruk, atau salak buat teman-temannya tanpa pandang bulu,” kata Kepala Bagian Hukum Pemkab Jember Ratno Cahyadi Sembodo yang dekat dengan pasangan itu selama enam tahun terakhir.

Dedi sering mengajak kawan-kawan sejawatnya ke rumah. “Kalau pas ke rumah mereka, Bu Ded pasti mengeluarkan semua isi kulkas untuk tamu-tamunya dan selalu tersenyum, walau Bu Dedi ini cenderung pendiam. Beliau tidak pernah bicara soal kejelekan orang lain dan tidak permah bergosip hal-hal buruk. Adem kalau berbicara dengan Bu Dedi,” kata Ratno.

Dalam urusan usia, Arismaya sebenarnya lebih senior daripada Dedi. Namun dia menduduki jabatan eselon II mendahului Arismaya. Bupati Faida mengangkatnya menjadi Kepala Kantor Pemuda dan Olahraga yang kemudian menjadi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga. “Ketika menjadi kepala dinas, dia sempat bengong tidak percaya,” kata Arismaya.

Mirfano meminta Arismaya mendampingi Dedi. Dedi tidak pernah bercita-cita menjadi kepala dinas apapun. Setelah bertugas menjadi petugas penyuluh lapangan, dia menjadi sekretaris camat. “Saya inginnya jadi camat, Pak Aris. Bukan pekerjaan seperti ini,” katanya.

Setelah masuk rumah sakit, Dedi sempat menelepon Arismaya dan minta dikirimi Alquran per juz. Kontak kedua terjadi sesudah Dedi masuk unit rawat intensif. “Kondisinya waktu itu masih terlihat baik,” kata Arismaya.

Direktur RS Daerah dr. Soebandi, Hendro Soelistijono, menjadi tempat konsultasi Dedi selama masa isolasi mandiri dan saat di rumah sakit. Terakhir, beberapa waktu lalu sebelum kondisi memburuk, ia menelepon Hendro pada pukul satu malam untuk bertanya seputar terapinya. “Dia tenang waktu itu,” katanya.

Arismaya selalu memberi pesan penyemangat via teks WhatsApp. “Pak Dedi, kalau bisa membaca WA ini, kami tetap mengharapkan yang terbaik. Tetap semangat. Manut kepada perawat,” katanya.

Rupanya pesan itu dibaca Dedi dan langsung menghubungi dengan panggilan video. Saat itulah Arismaya tahu kondisi sahabatnya. “Dia memegang ponsel dengan satu tangan. Tidak ngomong, karena ada ventilator di mulutnya. Saya yang banya bicara dan memberi semangat,” kata Arismaya.

Arismaya memantau perkembangan berikutnya dari anak Dedi. “Kira-kira seminggu setelah Pak Dedi masuk rumah sakit, Bu Dedi menyusul karena kondisinya lemah,” kata Arismaya.

Kondisi Dedi dan Utiek tak membaik. Dua hari lalu, Arismaya mendapat kabar dari anak mereka. Kedua orang tua mereka butuh plasma darah kovalensen. Tak mudah mencari plasma darah. Jumlahnya yang sesuai dengan golongan darah Dedi dan Utiek sangat terbatas, melebih jumlah orang yang membutuhkan. ‘Ternyata darah yang cocok dengan Pak Dedi adalah darah Mas David (David Handoko Seto, Ketua Panitia Khusus Penanganan Covid-19 DPRD Jember, yang juga penyintas),” kata Arismaya.

Semula plasma darah itu hendak dipakai pasien di Banyuwangi. Tapi ternyata sang pasien meninggal lebih dulu. Akhirnya dua kantong bisa diperoleh dan digunakan Dedi. Namun takdir berbicara lain. “Mereka berdua suami istri yang sangat baik, dipertemukan jodoh sehidup semati. Insya Allah syahid dan husnul khotimah,” kata Ratno. [wir/kun]









The post Asisten II Pemkab Jember dan Istri Meninggal Dunia Hari Ini first appeared on beritajatim.com.