Peristiwa

Apa Kabar Kopral Bagyo?

Googleberita.com, Solo – Masih ingat Kopral Bagyo? Pemilik nama lengkap Partika Subagyo, pensiunan anggota TNI Detasemen Polisi Militer (Denpom) IV/4 Solo itu, kerap melakukan aksi-aksi ekstrem dan nyentrik yang menyita perhatian khalayak luas.

Kopral ini memang terkenal kuat. Beragam prestasi ditorehkannya sejak mengabdi di TNI pada 1983 lalu. Pada 2006, ia memecahkan rekor MURI dengan melakukan push up 9.260 kali selama 24 jam. Aksi itu sebagai peringatan Hari Juang.

Lalu pada 2012, ia melakukan koprol 1.046 di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Dia juga berlari 24 jam mengitari Pura Mangkunegaran. Kopral Bagyo tercatat pernah aksi koprol di Jakarta dan Solo. Aksi-aksinya byukan sekadar mencari sensasi, tapi mengusung pesan mulia.

Sebagai selebrasi pensiunnya dari dinas ketentaraan per 14 Desember 2016, Kopral Bagyo melakukan aksi 1412 Gerakan Ngawal Kopral Pensiun.

“Mulai 14 Desember, saya sudah pensiun. Saya tetap bangga meski memasuki pensiun hanya berpangkat kopral,” kata Kopral Bagyo, Kamis, 15 Desember 2016.

Selepas pensiun, sang kopral ternyata tak berhenti. Dia masih saja membuat ‘ulah’. Tahun ini beberapa aksi gokil dilakukan [Kopral Bagyo](/2680213 “”). Berikut ini di antaranya.

 

Bagi-Bagi Buku

Kopral Bagyo memperingati Hari Buku Sedunia dengan kostum Hanoman sembari membagikan buku kepada penarik becak dan warga di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Solo, Senin (23/4).(Googleberita.com/Fajar Abrori)

Kopral Bagyo turut memperingati Hari Buku Sedunia yang jatuh pada Senin (23/4/2018) dengan caranya sendiri. Sang kopral aksi jalan kaki di jalan protokol Kota Solo, Jawa Tengah, serta membagikan buku kepada penarik becak.

Selain itu, Kopral Bagyo juga menggalang pengumpulan buku untuk disumbangkan kepada rumah baca di pelosok Wonogiri.

Ia memikul dua keranjang yang berisi tumpukan buku dan nasi bungkus. Isi keranjang itu dibagikan kepada para penarik becak dan warga di jalan yang dilintasinya, yakni dari Museum Radya Pustaka hingga Bundaran Gladag, Solo.

Kopral Bagyo memperingati Hari Buku Sedunia ini tidak sendirian, tetapi ditemani oleh Wahyudi yang merupakan penggiat literasi nasional dari Rumah Baca Sang Petualang di Tirtrosworo, Giriwoyo, Wonogiri.

Pensiunan kopral itu mengatakan, peringatan Hari Buku Sedunia dilakukan dengan pembagian buku kepada penarik becak dan masyarakat. Tak hanya buku, tetapi pembagian itu juga dibarengi dengan pembagian nasi bungkus kepada para penerima buku.

“Kita ingin meningkatkan minat baca di masyarakat. Nah, untuk para penarik becak nanti selain dapat buku juga mendapat nasi kucing (nasi bungkus),” ucap dia di Solo, Senin (23/4/2018).

Buku-buku yang dibagikan itu memiliki berbagai macam tema, mulai dari buku motivasi, buku Bahasa Inggris, buku pengetahuan, hingga buku bacaan ringan. Buku-buku yang sebanyak empat keranjang itu dibagikan semuanya.

“Buku itu jendela dunia. Dengan membaca buku kita akan semakin pintar. Oleh sebab itu, kita harus mendukung giat membaca buku mulai dari pelosok,” harapnya.

 

Tukang Becak dan Pemuda Tionghoa

Kopral Bagyo menggandeng komuitas pemuda Tionghoa dan penarik becak melakukan aksi tolak isu SARA dengan menggelar pemainan adu sotohkan dan gendong di Solo, Rabu (14/2).(Googleberita.com/Fajar Abrori)

Kopral Bagyo memiliki jurus unik untuk meredam isu SARA yang marak muncul dalam politik saat ini. Ia menggandeng komunitas pemuda Tionghoa dan penarik becak untuk melakukan aksi kebersamaan dan kerukunan dengan bermain sothokan dan saling gendong.

Kopral Bagyo menggelar aksi nyentrik yang penuh pesan damai itu di halaman Benteng Vastenburg, Solo, Rabu, 14 Februari 2018. Awalnya, dua kelompok yang terdiri dari penarik becak dan pemuda etnis Tionghoa menggelar unjuk rasa dengan membawa poster bertuliskan ‘Hentikan politik SARA merusak Bhinneka Tunggal Ika’.

Setelah itu, dua kelompok itu pun langsung beradu sothokan yang dipimpin langsung Kopral Bagyo. Adu permainan yang penuh dengan rasa keakraban dan kebersamaan itu berlangsung seru.

Usai adu sothokan, kemudian dilanjutkan dengan aksi gendong. Para pemuda etnis Tionghoa menggendong para penarik becak sambil berlari kecil di halaman Benteng Vastenburg.

Tak hanya itu, para penarik becak juga diberi angpao, botol minum, serta voucher makan gratis nasi liwet. Tak pelak aksi yang digagas Kopral Bagyo itu berakhir dengan penuh rasa kekeluargaan.

Kopral Bagyo mengatakan aksi tersebut digelar dalam rangka meredam isu SARA yang berkembang dalam perpolitikan saat ini. Menurutnya, isu tersebut jangan dibawa-bawa karena mengancam persatuan.

“Kalau isu SARA untuk berpolitik maka negara akan hancur dan masyarakat jadi resah,” kata dia.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of