Politik

Anak Muda yang Menyatukan NU Jember dan Kencong








Jember (beritajatim.com) – Ada dua kepengurusan cabang Nahdlatul Ulama di Kabupaten Jember, Jawa Timur, yakni NU Jember dan Kencong. Mereka sering kali memiliki preferensi politik berbeda saat pemilihan kepala daerah.

Kencong sebenarnya adalah nama sebuah kecamatan. Namun Pengurus Besar NU memberikan keistimewaan kepada NU Kencong untuk memiliki kepengurusan tingkat cabang tersendiri karena faktor sejarah. NU Kencong berdiri pada 21 September 1937. Soal tanggal ini masih ada perdebatan, namun yang jelas kepengurusan NU Kencong jauh lebih tua daripada Pengurus Cabang NU Jember.

Wilayah kewenangan organisasi PCNU Kencong meliputi Kencong, Gumukmas, Puger, Umbulsari, dan Jombang. Saat ini, PCNU Kencong diketuai Zainil Ghulam, pengasuh Pondok Pesantren Darul Muqomah, Gumukmas. Tidak ada bani atau keluarga besar ulama ternama di kawasan ini. Namun ada dua pondok pesantren besar di sana, yakni Pondok Assuniyah Kencong dan Pondok Bustanul Ulum Mlokorejo Puger.

Sementara itu, PCNU Jember meliputi 26 kecamatan. Saat ini, Tanfidz PCNU Jember diketuai KH Abdullah Syamsul Arifin dan posisi rais syuriah dipegang KH Muhyiddin Abdussomad.

Abdullah mengatakan, NU secara organisasi tak bisa terlibat politik praktis secara langsung. “Tapi pribadi-pribadi warga dan pengurus NU kan juga punya hak politik yang harus disalurkan. Juga ada tanggung jawab pengurus untuk memberikan arahan kepada warga yang membutuhkan dan belum mampu pada kapasitas memilih secara mandiri. Ada arahan-arahan untuk kepentingan jam’iyyah yang lebih luas,” katanya.

Menurutnya, jika jamaah NU hingga level paling bawah tidak dikonsolidasikan dan justru bergerak parsial, maka tidak akan ada kontribusi nyata untuk kepentingan jam’iyyah. NU Jember memiliki peran politik strategis selama pemilu dan bergandeng mesra dengan Partai Kebangkitan Bangsa.

Hubungan mesra ini juga ditunjukkan dalam pilkada Jember tahun ini. Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember sudah menyatakan akan berkonsultasi dengan PCNU terkait pengambilan keputusan mendukung kandidat bupati.

“PCNU mendapat amanah, ada pembagian tugas. Komunikasi dengan calon diserahkan kepada NU untuk terlibat. Kemudian komunikasi dengan partai-partai lain diserahkan kepada DPC PKB. Kita berikhtiar bersama-sama, mencari yang terbaik dan ketemu benang merahnya dengan NU,” kata Abdullah.

Ikhtiar pencarian dimulai dari nol, setelah Djoko Susanto yang semula sudah mendapat surat rekomendasi dari Dewan Pimpinan Pusat PKB yang ditandatangani sang ketua umum Muhaimin Iskandar mendadak ditalak berdasarkan usulan dewan pimpinan cabang. Di tengah pencarian itu, Ifan Ariadna, alumnus santri Pondok Pesantren Ash-Shiddiqi Putra datang dan memperkenalkan diri.

Dalam beberapa kali kesempatan, Ifan mengikuti kegiatan PCNU Jember, dan Abdullah memperkenalkannya kepada jemaat. Salah satunya saat acara silaturahim pengurus cabang dan pengurus Majelis Wakil Cabang Kecamatan Patrang, Sumbersari, Kaliwates, di Universitas Islam Jember, Rabu (6/5/2020) petang.

“Yang serius bersama-sama turun, minta doa restu kiai dan seluruh lapisan warga NU adalah orang di samping kiri saya ini. Ini yang akan diikhtiarkan. Kami berharap kita semua bertekad bersama-sama memperjuangkan apa yang akan diputuskan oleh Dewan Pimpinan Cabang PKB melalui rekom yang turun dari Dewan Pimpinan Pusat,” kata Abdullah saat itu menunjuk Ifan yang duduk di sebelahnya.

Abdullah melihat respons pengurus dan kader NU Jember terhadap Ifan cukup positif. “Mereka menganggap Mas Ifan bagian dari keluarga sendiri yang tidak ada jarak dalam komunikasi dengan seluruh jajaran PCNU,” katanya, Minggu (17/5/2020). Kuatnya intensitas kegiatan Ifan mendekati PCNU menjadi dasar pertimbangan untuk mendukung rekomendasi PKB bagi pengusaha muda itu.

Ifan tak hanya mendekati PCNU Jember, tapi juga PCNU Kencong dan badan otonomi di sana. “Mas Ifan sebelum ada pandemi corona ini sudah bersilaturahim dengan beberapa kiai di Jember selatan. Kami akan bersinergi dengan PCNU Jember. Nanti akan ada rapat lanjutan para kiai di PCNU Kencong dan Jember untuk merumuskan bagaimana nanti siapa kandidat bupati yang akan diusung,” kata Zainil Ghulam.

Saat itu, Ghulam menilai, Ifan adalah kandidat bupati dari kalangan santri. “Sanad keilmuannya sudah jelas, yaitu alumni Pondok Pesantren Ash Shiddiqi Putra. Secara sanad keilmuan, dia sudah terhubung dengan para kiai di NU,” katanya.

Ghulam beberapa kali bertemu dan bicara dengan Salam-Ifan, dan menilai mereka adalah pasangan muda yang bersemangat untuk berkontribusi nyata bagi Kabupaten Jember. “Saya melihat kesungguhan komitmen, khususnya dalam hal kemasyarakatan dan kebangsaan. Secara pribadi, kami ada kedekatan pertemanan,” katanya.

Pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Jember, Muhammad Khozin, menangkap ada semangat di kalangan nahdliyyin untuk berpaling pada anak muda, dan Ifan yang kemudian menjadi sekondan Salam adalah representasi kaum muda. Keduanya lahir di Jember: Salam pada 10 Mei 1983, dan Ifan pada 25 Oktober 1979. “Ini tawaran fresh bagi pemilih. Preferensi pilihan terhadap pasangan muda cukup kuat,” katanya.

Khozin, mengatakan, sejarah diciptakan Ifan Ariadna. “Baru pertama kali ini PCNU Jember dan PCNU Kencong satu sikap dalam urusan pilkada,” katanya.

Pasangan Salam-Ifan saat mendaftar di KPU Jember

Khozin berani mengatakan, dukungan untuk Ifan tidak bergeser, bahkan saat Ifan resmi berposisi sebagai calon wakil bupati mendampingi Abdus Salam. “Gus Firjaun adalah mustasyar Pengurus Cabang NU Jember. Tapi mayoritas pengurus ikut syuriah dan tanfidziyah yang mendukung Ifan Ariadna,” katanya, sebagaimana dilansir beritajatim.com, Kamis (27/8/2020).

Abdullah mengatakan, jauh-jauh hari Ifan sudah sudah berkoordinasi dengan PKB dan jaringan NU hingga tingkat ranting. Bahkan komitmen antara kedua belah pihak sudah terbentuk dengan Ifan. Komitmen ini tak berubah, ketika Ifan bergandengan dengan Salam sebagai calon wakil bupati.

Pendaftaran pasangan Salam dan Ifan ke KPU Jember, Sabtu (5/9/2020), menjadi momentum penanda dukungan. Abdullah dan Ghulam ikut melepas keberangkatan mereka dari kantor Gerakan Pemuda Ansor yang satu kompleks dengan kantor Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember.

Abdullah, memimpin doa bersama petinggi tingkat kabupaten dari enam partai politik sebelum berangkat. Usai pendaftaran, Ghulam juga mendatangi Rumah Makan Lestari, tempat Salam dan Ifan makan bersama tim.

Baca Juga:

  • Pengamat: Pemimpin Daerah Tak Perlu Sangat Cerdas Asal Bisa Berkomunikasi
  • Demokrat: Dukung Hendy-Firjaun atau Keluar dari Partai
  • PAN: 11 Parpol Usung Satu Cabup yang Hargai DPRD Jember
  • Inilah Makna Nomor Urut Bagi Para Kandidat dalam Pilkada Jember

Aktivitas PCNU Jember dan Kencong ini rupanya menarik perhatian Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Sebuah surat tertanggal 19 September 2020 berisi teguran resmi pertama kepada PCNU Jember dan PCNU Kencong meluncur.

Tidak dijelaskan dengan benderang pelanggaran apa yang dilakukan PCNU Jember dan Kencong. Surat itu hanya menyebutkan, bahwa PWNU Jatim menerima laporan tentang kegiatan bersama resmi organisasi PCNU Jember dan Kencong yang ‘menghadirkan pemangku kepentingan politik praktis yang berkepentingan dengan pemilukada setempat’.

Surat itu ditanggapi tenang oleh Abdullah dan Ghulam. “Terima kasih sudah diingatkan,” kata Ghulam.

Abdullah juga menilai surat teguran itu sebagai dinamika biasa dalam organisasi. Ia melihat itu tak perlu dibesar-besarkan.

Apalagi, Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur Marzuqi Mustamar terang-terangan memberikan restu dan nasihat untuk Salam dan Ifan, saat acara bertema Penguatan Aswaja dan Ke-NU-an, di Lembaga Pendidikan Perjuangan IBU (Islam Bustanul Ulum), Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Kamis (17/9/2020). [wir/ted]








The post Anak Muda yang Menyatukan NU Jember dan Kencong first appeared on beritajatim.com.